Secara total, pemerintah menargetkan pembangunan Kopdes di dalam negeri akan mencapai sebanyak 82 ribu, dengan kebutuhan masing-masing 1 unit pikap dan truk.
Itu artinya kebutuhan kendaraaan untuk seluruh Kopdes diperkirakan melebihi angka yang telah diimpor tersebut, atau sekitar 160 ribu. Untuk memenuhi itu, Ferry mengaku pemerintah akan memprioritaskan otomotif nasional.
"Kita sebenarnya tetap memprioritaskan industri otomotif nasional. Tapi sekiranya industri nasional hanya mencukupi tidak semua, sisanya tetap kita dengan terpaksa mengadakan dari negara lain," tutur dia.
Agrinas memang sebelumnya resmi mengimpor sebanyak 105.000 unit mobil pikap yang berasal dari pabrikan India untuk mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh Indonesia.
Secara terperinci, sebanyak 35.000 unit mobil pikap Scorpio dipasok oleh produsen otomotif Mahindra. Sementara itu, 70.000 unit lainnya disuplai oleh Tata Motors India, yang terdiri atas Yodha Pick Up dan truk Ultra T.7 masing-masing 35.000 unit.
Namun, rencana tersebut menuai kontroversi dan muncul berbagai kritik lantaran terjadi ditengah industri otomotif Indonesia yang masih lesu dan mengalami penurunan penjualan.
Bahkan, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad juga sempat meminta pemerintah, dalam hal ini PT Agrinas Pangan Nusantara untuk menunda pembelian mobil impor asal India tersebut.
“Jadi rencana untuk impor 105 ribu mobil pikap dari India saya sudah menyampaikan pesan kepada pemerintah untuk rencana tersebut ditunda dulu," ujarnya kepada wartawan di Gedung Parlemen, Senin (23/2/2026) lalu.
(ain)






























