Logo Bloomberg Technoz

Manila dan Beijing terlibat dalam sengketa atas jalur perairan strategis Laut China Selatan, dan terakhir kali mereka mengadakan pembicaraan formal mengenai perselisihan ini adalah pada Januari tahun lalu.

Pertemuan terbaru ini terjadi setelah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memberi sinyal keterbukaan untuk memulai kembali pembicaraan dengan Beijing terkait proyek bersama minyak dan gas di wilayah sengketa Laut China Selatan.

Manila juga tengah mencari pasokan minyak dan pupuk dari Beijing setelah perang Iran mengganggu pasokan.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri China menyebutkan bahwa kedua pihak berbicara secara positif mengenai perkembangan hubungan China-ASEAN, dan bahwa meskipun lingkungan yang kompleks dan bergejolak, mereka akan memperkuat komunikasi dan koordinasi untuk memajukan kerja sama Asia Timur serta menjaga stabilitas dan pembangunan kawasan.

Dalam pernyataan terpisah mengenai pembicaraan hari Sabtu oleh Departemen Batas dan Urusan Kelautan Kementerian Luar Negeri, China mengatakan telah mengajukan protes resmi atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran maritim, provokasi, dan retorika yang menghasut dari Filipina.

China menyerukan Manila untuk menyelaraskan kata-kata dengan tindakan serta kembali menyelesaikan isu maritim melalui dialog dan konsultasi.

Kedua pihak juga membahas kerja sama di bidang seperti penegakan hukum maritim serta ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan, dan mencatat kemajuan positif, tambah departemen tersebut.

Kedua negara menegaskan kembali komitmen untuk mengelola ketegangan maritim melalui dialog serta mendorong pembahasan kode etik Laut China Selatan.

(bbn)

No more pages