Logo Bloomberg Technoz

Tekanan juga datang dari sisi profitabilitas. EBITDA turun menjadi US$175 juta akibat volume lebih rendah, kenaikan biaya bahan bakar, serta lonjakan biaya pesangon.

Menurut manajemen, EBITDA bakal berada di posisi US$207 juta dengan margin 17% apabila biaya pesangon tidak diperhitungkan.

“Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat,” kata Iwan dikutip dari keterangan resmi, Minggu (29/3/2026).

Di luar dari operasional, perseroan mencatat rugi karena adanya beban non-underlying.

Perseroan mencatat penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset (impairment) pada operasi di Australia dan Amerika Serikat.

Sebagian besar saham DOID saat ini sekitar 38,21% lembar dipegang oleh NorthStar Tambang Persada, salah satu kendaraan investasi yang dikendalikan Grup Northstar milik Patrick Walujo dan Glenn Sugita.

Perbaikan Kas

Sejumlah faktor sebenarnya menahan penurunan lebih dalam, seperti keuntungan nilai wajar US$41 juta dari investasi di 29Metals dan keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta. Namun, kontribusi tersebut belum cukup menutup tekanan utama.

Meski demikian, perseroan mengklaim mulai mencatat pemulihan bertahap di paruh kedua tahun 2025, ditandai dengan perbaikan arus kas bebas.

Perseroan membukukan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar US$8 juta pada 2025, berbalik dari posisi negatif US$60 juta pada 2024.

Adapun pada kuartal IV-2025, arus kas bebas tercatat sebesar US$57 juta, sekaligus diklaim menjadi capaian kuartalan tertinggi sepanjang tahun.

“Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan," kata Iwan.

(prc/naw)

No more pages