Tidak hanya IHSG, nyaris semua Bursa Asia juga terbenam di zona merah. Index KOSPI (Korea Selatan) jadi yang paling parah dengan ambles mencapai 3,41%.
Disusul oleh KOSDAQ (Korea), Hang Seng (Hong Kong), Shenzhen Comp. (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), CSI 300 (China), PSEI (Filipina), Shanghai Composite (China), Topix (Jepang), NIKKEI 225 (Tokyo), SETI (Thailand), Taiwan TAIEX, dan KLCI (Malaysia) yang ambles di zona merah masing–masing mencapai 2,08%, 2,02%, 1,25%, 1,15%, 1,05%, 0,95%, 0,92%, 0,81%, 0,79%, 0,64%, 0,31%, dan 0,03%.
Sentimen yang menyeret laju Bursa Saham Asia hari ini adalah datang dari ketidakpastian dan kegelisahan pasar dampak langsung dari perang di Timur Tengah yang masih berlangsung antara AS–Israel vs. Iran.
Biarpun Presiden AS Donald Trump mendesak dilakukannya pembicaraan untuk menyudahi perang menghadapi Iran, AS telah memerintahkan pergerakan ribuan pasukan ke teritori tersebut. Hal yang memicu kecemasan Trump sedang mempersiapkan invasi darat berisiko yang pernah ia tolak saat kampanye.
Iran secara terbuka menolak upaya diplomasi Trump dan mengancam akan melakukan pembalasan jika AS benar–benar mengirim pasukan darat dalam rangka mematahkan niat Teheran, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Bagi seorang presiden yang mengkritik apa yang disebutnya sebagai “perang abadi” para pendahulunya, skenario eskalasi potensial ini menyeret prospek korban jiwa yang besar.
Kendatipun Trump belum mengumumkan rencananya, sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan– dalam beberapa hari Pentagon memerintahkan pengerahan dua Unit Ekspedisi Marinir, yang terdiri dari 5.000 tentara beserta pesawat terbang dan kendaraan pendaratan amfibi ke zonasi tersebut. Pada Selasa, seseorang yang mengetahui masalah ini mengatakan, Trump juga mengirimkan lebih dari 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke–82 Angkatan Darat ke Timur Tengah.
Terlebih lagi, sentimen kurang positif datang dari regional Asia yang sedang mempersiapkan skenario energi terburuk yang dapat mencakup gangguan pasokan yang berkepanjangan dan parah.
Korea Selatan beralih ke mode krisis pada Rabu setempat, hingga membentuk gugus tugas ekonomi darurat untuk segera mempersiapkan diri menghadapi skenario yang merugikan.
Sementara itu, Filipina menyatakan keadaan darurat nasional, dengan alasan “Bahaya yang akan segera terjadi berupa pasokan energi yang sangat rendah.”
Jepang sedang meninjau seluruh rantai pasokan produk terkait dengan minyak bumi karena kemungkinan kekurangan dan efek domino di seluruh perekonomian meningkat, sementara Perdana Menteri India Narendra Modi memperingatkan perang tersebut dapat menyebabkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi negara tersebut.
“Kawasan ini sangat rentan terhadap konflik berkepanjangan dan guncangan harga energi global,” tutur Peter Mumford, kepala Asia Tenggara dari Konsultan Risiko Eurasia Group.
“Kekhawatiran meningkat tentang dampak ekonomi tingkat kedua dan ketiga, termasuk pembatalan penerbangan, kapal penangkap ikan yang menganggur, dan dampak terhadap turisme.”
(fad)



























