Logo Bloomberg Technoz

Untuk diketahui, Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) mencatat sudah banyak maskapai di berbagai negara yang melakukan penyesuaian biaya operasional dengan menambah fuel surcharge sebesar 5%—70% di tengah kenaikan harga avtur akibat efek domino perang Timur Tengah.

Langkah tersebut, tercatat dilakukan oleh sejumlah maskapai, antara lain; Air India, Air India Express, IndiGo dan Akasa Air dari India, South African Airlines, FlySafair dari Afrika Selatan, Cathay Pacific dan Hong Kong Airlines dari Hong Kong, Thai Airways dari Thailand, Qantas dari Australia, Korean Air dan Asiana dari Korea Selatan, hingga Air Mauritius, Ethiopian Airlines, Kenya Airlines dari kawasan Afrika.

Adapun, Vietnam Airlines akan menangguhkan sementara penerbangan di beberapa rute domestik karena kekurangan bahan bakar jet atau avtur, dan kenaikan harga bahan bakar yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada perjalanan udara di negara tersebut

Maskapai penerbangan nasional akan memangkas sekitar 23 penerbangan per minggu mulai 1 April karena pasokan bahan bakar jet yang makin ketat, menurut pernyataan dari Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam.

VietJet Aviation JSC juga mengurangi penerbangan di beberapa rute, menurut jadwal di situs jejaring pemesanannya.

Bamboo Airways akan berupaya mempertahankan penerbangan selama periode puncak perjalanan, meskipun frekuensi mungkin lebih rendah daripada tahun lalu jika harga minyak tetap tinggi, kata maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan.

Maskapai ini juga meminta pemerintah untuk menawarkan lebih banyak dukungan kepada maskapai penerbangan, termasuk pengurangan lebih lanjut dalam pajak perlindungan lingkungan dan pajak bahan bakar penerbangan.

Di tempat lain di Asia Tenggara atau Asean, maskapai penerbangan murah Filipina, Cebu Air, berencana untuk mengurangi penerbangan mulai April karena lonjakan harga bahan bakar yang disebabkan oleh krisis Timur Tengah, kata maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan pada Senin.

Smentara itu, Presiden Philippine Airlines Inc. Richard Nuttall mengatakan negara Asia Tenggara itu mungkin perlu melakukan penjatahan (ration) bahan bakar jet di tengah pasokan yang ketat karena perang di Iran.

Dalam wawancara dengan Bloomberg News, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengatakan penghentian operasional pesawat karena kekurangan bahan bakar jet atau avtur yang disebabkan oleh perang di Iran adalah "kemungkinan yang nyata."

“Beberapa negara telah memberi tahu maskapai penerbangan kami bahwa mereka tidak dapat mengisi bahan bakar pesawat mereka, jadi mereka harus membawa bahan bakar ke sana dan kembali,” kata Marcos, Selasa (24/3/2026).

“Penerbangan jarak jauh akan menjadi masalah yang jauh lebih serius.”

Polemik TBA

Dalam kaitan itu, Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto meminta pemerintah untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge dan tarif batas atas (TBA) tiket penerbangan domestik masing-masing sebesar 15%.

Usulan tersebut diajukan sebagai respons atas melonjaknya harga minyak global yang turut mengkerek harga bahan bakar pesawat jet (jet fuel) atau avtur hingga berkurangnya jumlah penumpang ke Timur Tengah.

“[INACA mengusulkan agar pemerintah] menaikkan fuel surcharge sebesar 15% atas masing-masing fuel surcharge yang telah ditetapkan melalui KM [Keputusan Menteri Perhubungan] No. 7/2023 tertanggal 10 Januari 2023,” kata Bayu dalam pernyataan tertulis, Rabu (25/3/2026).

“[Lalu,] menaikkan Tarif Batas Atas [TBA] harga tiket penerbangan domestik dengan kenaikan sebesar 15% untuk pesawat udara jenis jet dan pesawat udara jenis propeller atas TBA yang ditetapkan melalui KM No. 106/2019,” lanjutnya.

Ihwal usul kenaikan TBA harga tiket penerbangan domestik, Bayu meminta pemerintah agar kebijakan tersebut diberlakukan untuk jenis jet dan pesawat udara jenis baling-baling atau propeller.

(azr/wdh)

No more pages