Sementara itu, kondisi di Kabupaten Mempawah, Singkawang, dan Bengkayang terpantau sedang, serta Sambas dan Landak masih dalam upaya pengurangan kepadatan.
"Kondisi antrean di berbagai SPBU di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya sudah normal, sementara di Kabupaten Mempawah, Kabupaten Singkawang, dan Kabupaten. Bengkayang dalam kondisi sedang, sementara Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak masih terus diupayakan untuk mengurangi antrean yang masih relatif padat," tutur Widhi.
Dari sisi penyaluran, selama periode Satgas 9—22 Maret, penyaluran BBM di Kalbar tercatat rata-rata 2.749 kiloliter (kl)/hari untuk bensin jenis Pertalite dan Pertamax Series (naik 19,8% dari normal, dengan puncak kenaikan 54% pada 20 Maret) dan 1.420 kl/hari untuk Solar (turun 3,7% dari normal, dengan kenaikan tertinggi 20% pada 18 Maret).
"PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan memastikan suplai ke SPBU berjalan lancar dengan penambahan mobil tangki serta operasional IT Pontianak selama 24 jam," jelasnya.
Sebelumnya, antrean BBM di laporkan terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dalam video yang tersebar di media sosial, ratusan warga dilaporkan mengantre berjam-jam demi mendapatkan BBM Pertalite.
Di sisi lain, unggahan yang ramai diperbincangkan di X tersebut menarasikan bahwa harga Pertalite di penjual tak resmi dapat mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter.
“Namun setelah lama mengantre, sebagian pengendara justru mendapat kabar bahwa stok BBM di SPBU sempat habis. Situasi ini memicu keluhan masyarakat terkait distribusi BBM di daerah tersebut,” tulis narasi dalam video X tersebut.
Dalam unggahan yang berbeda, dilaporkan terjadi kekosongan BBM di sepanjang jalan lintas Sumatra dari Riau ke Medan.
“Kondisi SPBU pada malam hari di sepanjang jalan lintas Sumatra dari Riau ke Medan dipadati kendaraan bertonase berat. Beberapa pengendara terlihat keluar masuk area SPBU, sementara lainnya tampak berkeliling mencari tempat pengisian bahan bakar yang tersedia,” sebagaimana tertulis dalam unggahan IG CeritaMedan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan stok BBM Indonesia per 13 Maret 2026 atau menjelang hari raya Idulfitri 2026 berada di atas standar minimum nasional yang ditetapkan sebesar 21—23 hari.
Dalam sidang kabinet paripurna, Bahlil melaporkan bahwa Pertalite (RON 90) memiliki ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) sebesar 24,39 hari, berada di atas batas minimum 18,2 hari.
“Bapak Presiden kami laporkan bahwa ini adalah kondisi BBM kita sekarang. Jadi untuk pertalite, RON 90 ini yang bensin subsidi. Itu cadangan kita adalah 24,39 hari, batas melampaui batas minimal dari apa yang direncanakan oleh nasional kita,” kata Bahlil di Kantor Presiden, Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Untuk Pertamax (RON 92), Bahlil mengungkap ketahanan stok nasional tercatat 28,75 hari atau lebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari.
Sementara itu, Pertamax Turbo (RON 98) dilaporkan memiliki ketahanan stok 31,32 hari, melampaui batas minimum 22,3 hari.
Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar (CN 48), ketahanan stok nasional tercatat 16,41 hari, sedikit di atas batas minimum 16,3 hari.
Pertamina Dex (CN 53) memiliki ketahanan stok mencapai 46,05 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
Untuk bahan bakar penerbangan avtur, ketahanan stok nasional tercatat 38,15 hari atau melampaui batas minimum 26 hari.
Sementara itu, untuk gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), ketahanan stok nasional mencapai 15,66 hari di atas batas minimum 11,4 hari.
Kemudian, minyak tanah memiliki ketahanan stok nasional sebesar 23,15 hari. “Cadangan menjelang Hari Raya untuk semua BBM dan LPG insyallah aman Bapak,” kata Bahlil.
(prc/wdh)




























