Jika dibandingkan negara lain di kawasan, yield SUN Indonesia menjadi yang paling tinggi kedua, setelah Filipina. Yield obligasi Taiwan hanya 1,47%, China 1,83%, Malaysia 3,49%, Thailand 2,15%, Korea Selatan 3,86%, India 6,83% dan Filipina 7,08%.
Kondisi ini dapat menempatkan Indonesia dapat posisi yang kurang menguntungkan di mata investor global. Selisih (spread) yield yang tinggi memang secara teori dapat meningkatkan daya tarik, tapi dalam situasi saat ini justru lebih mencerminkan persepsi risiko yang meningkat terhadap aset domestik.
Lebih lanjut, kombinasi antara kenaikan yield dan pelemahan nilai tukar rupiah dapat memperburuk profil risiko investasi. Investor asing berpotensi mengalami kerugian dari depresiasi rupiah.
Akibatnya, arus modal asing cenderung keluar. Melansir data Bloomberg, per Senin (16/3/2026), SUN banyak dilepas oleh investor dan terjadi arus keluar modal asing sebesar US$1.027 juta sejak awal bulan (month-to-date).
Jika tren ini berlanjut, maka pemerintah berisiko menghadapi mahalnya biaya pembiayaan (financing cost), terutama untuk tenor panjang yang saat ini sudah menembus level psikologis 7%.
(dsp/aji)




























