Logo Bloomberg Technoz

Sebaliknya, baht Thailand menguat 1,09%, disusul peso Filipina, dolar Taiwan dan Hong Kong. 

Pergerakan mata uang di pasar Asia, Selasa (24/3/2026). (Bloomberg)

Beragamnya pergerakan mata uang di pasar Asia lantaran tiap negara memiliki tingkat sensitivitas berbeda terhadap kenaikan harga minyak. Rupee India dan won Korea Selatan misalnya, melemah paling dalam sejak perang berkecamuk di Timur Tengah dan membuat harga minyak melonjak.

Sejak awal bulan Maret, rupee telah tergerus 3,19% dan won Korea melemah 4,02%. Selain kedua mata uang ini, peso Filipina juga melemah 3,7% dan dolar Taiwan 1,59%. 

Kemarin, rupee India melemah ke rekor terendah, terbebani lonjakan harga minyak global dan meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat memperpanjang gangguan pasokan serta menekan ekonomi terbesar ketiga di Asia itu.  

Harga minyak Brent masih berada di atas US$100 per barel dan naik sekitar 1% di tengah indikasi bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari selesai, meski Presiden AS Donald Trump menunda serangan lanjutan terhadap Iran.

Melansir data Bloomberg pagi ini, Brent kembali menguat 3,28% ke US$103,22 per barel. Harga minyak tercatat telah melonjak lebih dari 50% bulan ini. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa krisis saat ini berpotensi melampaui tingkat keparahan guncangan minyak pada 1970-an. 

Dari pasar domestik, belum banyak katalis yang dapat membawa penguatan terhadap rupiah di saat pasar masih tutup libur Nyepi dan Idul Fitri. Pasar spot akan kembali buka pada esok hari, Rabu (25/3/2026). 

Di tengah lonjakan harga minyak yang durasinya belum diketahui, pemerintah Indonesia membuat beberapa kajian penghematan energi, salah satunya dengan skema Work From Home (WFH) bagi pegawai. 

Pemerintah juga masih mengkaji rumusan kebijakan itu, termasuk mengenai potensi dampak bekerja dari rumah terhadap ekonomi informal seperti yang terjadi saat Pandemi Covid-19. 

(dsp/aji)

No more pages