Dalam skenario terburuk, Airlangga justru mengatakan jika rata-rata harga minyak menembus US$115/barel, maka defisit APBN bakal melebar hingga 4,06% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga US$115 per barel, kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2%, surat berharganya 7,2%, defisitnya 4,06%,” kata Airlangga dalam sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026) lalu.
Mulanya, Airlangga mengungkap realisasi harga minyak Indonesia (ICP) pada awal tahun masih relatif di bawah asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Pada Januari tercatat US$64,41 per barel dan pada Februari US$68,79 per barel.
Pada skenario pertama, dengan rata-rata ICP sekitar US$90 per barel sepanjang 2026, kurs rupiah diasumsikan Rp17.000 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,3%, imbal hasil surat berharga negara diperkirakan 6,8%, sehingga defisit APBN diproyeksikan mencapai 3,18% PDB.
Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan Iran terjadi selama 5 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107 per barel dalam periode perang tersebut.
Sementara pada skenario moderat, jika harga minyak sepanjang tahun ini sebesar US$97 per barel, kurs rupiah Rp17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2%, tingkat bunga surat berharga negara sekitar 7,2%. Pada skenario ini, defisit APBN berpotensi melebar menjadi 3,53% PDB.
Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan Iran terjadi selama 6 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107 per barel dalam periode konflik tersebut.
Sedangkan pada skenario terburuk, ketika rata-rata harga minyak mencapai US$115 per barel, kurs rupiah diasumsikan melemah hingga Rp17.500 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,2% dan imbal hasil surat berharga negara 7,2%.
Dalam kondisi tersebut, Airlangga memprediksi defisit APBN mencapai 4,06% terhadap PDB.
Airlangga mengungkapkan skenario tersebut dapat terjadi jika perang berlangsung selama 10 bulan dan harga minyak mentah menyentuh level US$130 per barel dalam periode perang tersebut.
Dengan berbagai simulasi tersebut, Airlangga menyatakan target defisit APBN sebesar 3% bakal sulit dipertahankan apabila harga minyak melonjak tajam.
“Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3% itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak Presiden,” kata dia.
(ibn/ros)































