“Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan undisplaced loan yang masih cukup besar, yaitu mencapai Rp2.536,4 triliun, atau 22,86% dari platform kredit yang tersedia.” lanjut Perry.
Sementara itu, dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan perbankan diklaim tetap memadai. Hal ini ditopang oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang tercatat sebesar 27,4%, serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 13,18% pada Februari 2026.
“Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan tetap baik, tercermin dari persyaratan pembiayaan kredit (lending requirement) yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.” katanya.
Dorong Penyaluran Kredit
Perry juga menyebut Bank Indonesia akan terus berupaya untuk mendorong penyaluran kredit dengan memperkuat kapasitas pendanaan, termasuk melalui pengembangan instrumen pendanaan non-tradisional funding atau non-DPK yang terus dioptimalkan.
Bank Indonesia juga menyebut akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memperbaiki struktur hubungan dan mendorong pertumbuhan kredit pembiayaan perbankan tersebut.
“Ketahanan perbankan tetap kuat sehingga diperkirakan dapat memitigasi risiko dampak dari Perang Timur Tengah. Perkembangan ini ditandai dengan likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas pendanaan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah.” katanya.
Sementara itu, Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Januari 2026 tercatat tinggi sebesar 25,87% sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan secara agregat berada di angka 2,14% bruto dan 0,82% neto pada Januari 2026.
Perry mengeklaim, hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan gejolak global dari Perang Timur Tengah, yang ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga.
“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi dampak rambatan ketidakpastian global yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.” katanya.
(ell)

























