“Karena itu, bila minyak dunia naik tajam akibat konflik Timur Tengah, publik biasanya lebih dulu melihat tekanan pada Pertamax series dan Dex series dalam hitungan minggu sampai awal bulan berikutnya, bukan pada hari yang sama,” tegas dia.
BBM Subsidi
Di sisi lain, Syafruddin menilai kenaikan harga minyak mentah juga tidak serta-merta mengkerek harga BBM subsidi.
Pemerintah bakal memutuskan apakah menahan harga eceran dan membiarkan beban subsidi meningkat atau justru membebankannya ke negara.
Akan tetapi, dia memandang penyesuaian harga BBM bersubsidi diprediksi baru terjadi jika lonjakan harga minyak bertahan cukup lama, sehingga tekanan ke APBN semakin berat dan selisih antara harga pasar dengan harga jual eceran sudah terlalu besar untuk terus diserap negara.
Lalu, tekanan terhadap subsidi juga baru bakal meningkat jika rata-rata harga minyak dunia bergerak di atas Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan dalam APBN. Adapun, dalam APBN 2026 asumsi ICP dipatok sebesar US$70/barel.
Adapun, sejak Senin pekan lalu, harga minyak mentah acuan dunia melonjak menjadi di atas US$100/barel gegara kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah.
Minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 2,8% menjadi US$103,04/barel pada pukul 10:18 pagi ini di Singapura.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik 2,7% menjadi US$96,03/barel.
Pernyataan berhentinya produksi minyak dari negara produsen di Teluk seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) makin menambah dorongan bagi laju harga minyak.
Sekadar informasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar tidak bakal mengalami kenaikan harga setidaknya hingga Idulfitri 2026, meskipun harga minyak mentah dunia sudah menembus level US$100/barel.
Bahlil menyatakan Kementerian ESDM sedang melakukan kajian ihwal dampak kenaikan harga minyak mentah dunia akibat efek domino krisis Iran tersebut terhadap harga BBM domestik.
Akan tetapi, dia memastikan harga BBM bersubsidi bakal tetap ditahan pemerintah dalam periode Ramadan dan Idulfitri 2026. Selain itu, dia mengklaim stok BBM Indonesia dalam kondisi yang terjaga.
“Problemnya kita sekarang bukan di stok, stok enggak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga. Nah, kita lagi akan meng-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprehensif,” kata Bahlil kepada awak media, di Kantor Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).
“Akan tetapi, sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan hari raya ini insyallah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi,” ungkapnya.
(azr/wdh)




























