Bank Sentral Diminta Tahan BI Rate 4,75%: Risiko Inflasi & Rupiah
Redaksi
17 March 2026 04:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur BI yang berlangsung 16-17 Maret 2026.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai bank sentral perlu mempertimbangkan dinamika perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memunculkan potensi inflasi dari harga minyak dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Sehingga membatasi ruang pemangkasan suku bunga karena berpotensi memperburuk risiko inflasi,” ujar Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam riset yang diterima Bloomberg Technoz, Selasa (17/3/2026).
Menurut dia, inflasi berpotensi menghadapi tekanan yang beragam dalam beberapa bulan mendatang. Tak hanya peningkatan permintaan musiman selama periode Ramadan dan Idulfitri yang berpotensi mengerek harga pangan dan tarif transportasi, tetapi ketegangan geopolitik juga dapat mendorong harga energi global dan menimbulkan tekanan inflasi tambahan.
Dari sisi pelemahan mata uang, berkurangnya selisih suku bunga acuan dapat menambah tekanan depresiasi pada nilai tukar rupiah yang saat ini sudah melemah. Saat ini, rupiah terdepresiasi karena akumulasi sentimen negatif, baik perang AS-Iran maupun kerentanan domestuk yang muncul di permukaan.





























