Kenaikan tertinggi dialami oleh Hang Seng (Hong Kong) mencapai 1,45% di penutupan perdagangan saham Bursa Asia, menyusul SENSEX (India) yang ditutup menguat 1,26%, KOSPI (Korea Selatan) meninggi 1,14%, Straits Time (Singapura) menguat 0,55%, Shenzhen Comp. (China) terapresiasi 0,16%, dan CSI 300 (China) menghijau 0,05%.
Sementara itu di sisi berseberangan, paling lesu– IHSG (Indonesia) drop 1,61%, KOSDAQ (Korea Selatan) melemah 1,27%, menyusul PSEI (Filipina) turun 0,86%, TOPIX (Jepang) jatuh dengan pelemahan 0,5%, SETI (Thailand) merah 0,31%, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) melemah 0,18%, TW Weighted Index (Taiwan) ambles 0,17%, KLCI (Malaysia) terpeleset 0,13%, dan NIKKEI 225 (Tokyo) melemah 0,13%.
Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Senin tutup dagang hari ini, rupiah kembali lesu di hadapan dolar Amerika Serikat. US$1 setara dengan Rp16.990. Rupiah melemah 0,27% point–to–point.
Sejak pagi tadi, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dibuka langsung terdepresiasi amat dalam di pembukaan perdagangan pasar spot, Senin (16/3/2026) yang nyaris melampaui level genting Rp17.000/US$.
Rupiah semakin tergerus mencapai Rp16.997/US$ yang menjadi titik terlemahnya intraday. Rupiah melemah amat dalam di tengah tekanan sentimen pasar global yang semakin mengangkat tinggi–tinggi pamor dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah tak sendirian. Di Asia saat ini, sejumlah mata uang loyo di hadapan dolar AS. Baht Thailand memimpin pelemahan dengan penurunan 0,66%, Peso Filipina melemah 0,24%, kemudian Dolar Taiwan drop 0,09%, dan Dollar Hong Kong terdepresiasi 0,03%.
Adapun rupiah dan mata uang Asia lain tertekan lantaran sentimen global, mulai dari peningkatan eskalasi konflik Timur Tengah yang menguatkan kembali dolar AS sebagai Safe Haven, hingga sentimen domestik menyoal kekhawatiran arus capital outflows seiring disiplin fiskal yang berpotensi melebihi batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dolar AS makin perkasa dengan level opening mencapai 100,42, sejalan dengan ketidakpastian yang makin meningkat di pasar menyusul bantahan Iran tentang pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mereka menginginkan pembicaraan gencatan senjata, melancarkan serangan baru di seluruh Teluk Persia dan memaksa penangguhan penerbangan di bandara utama Dubai.
Dolar AS sudah membukukan reli tiga hari berturut–turut dan diprediksi akan melanjutkan kenaikan seiring mulai meragunya para investor akan jalur meredanya ketegangan konflik Timur Tengah.
Efeknya, saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.
Pada nantinya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, investor sulit berharap akan datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad)































