Logo Bloomberg Technoz

Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan kontak dengan individu yang membawa virus, termasuk orang yang belum menunjukkan gejala.

“Dalam konteks campak, seseorang sudah bisa menularkan virus sekitar empat hari sebelum muncul ruam sehingga sering tidak disadari sebagai penyebab penularan,” ujarnya.

Dicky menambahkan campak merupakan salah satu penyakit paling menular dengan angka reproduksi dasar yang sangat tinggi.

“Campak memiliki angka reproduksi dasar yang sangat tinggi, sampai 18, artinya satu orang bisa menularkan kepada 18 orang lain yang rentan,” katanya.

Ia menjelaskan virus campak menular melalui droplet pernapasan, aerosol, maupun kontak dengan permukaan yang terkontaminasi droplet. Virus tersebut juga dapat bertahan di udara atau permukaan benda hingga sekitar dua jam setelah dilepaskan dari orang yang terinfeksi.

Menurutnya, sentuhan tangan dapat menjadi jalur penularan tidak langsung apabila tangan yang terkontaminasi droplet kemudian menyentuh bayi.

“Sentuhan tangan bisa menjadi jalur tidak langsung yang disebut fomite transmission, misalnya ketika seseorang batuk atau bersin lalu dropletnya menempel di tangan, kemudian tangan tersebut memegang bayi, dan bayi menyentuh tangan itu lalu memasukkannya ke mulut atau menyentuh mata, sehingga virus dapat masuk ke tubuh,” jelasnya.

Dicky menyebut bayi termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap infeksi karena sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang optimal, terutama pada usia di bawah sembilan bulan.

“Sistem imun bayi belum matang, belum optimal, dan belum mendapatkan imunisasi lengkap sehingga sangat rentan terhadap infeksi,” ujarnya.

Selain sentuhan, kebiasaan mencium bayi saat bertemu keluarga juga berisiko meningkatkan penularan virus.

“Saat mencium bayi, jarak wajah sangat dekat sehingga droplet dari mulut atau hidung bisa langsung mengenai bayi. Karena itu ciuman bayi menjadi salah satu cara paling mudah menularkan virus pernapasan,” kata Dicky.

Ia menilai imbauan untuk mengurangi kontak langsung dengan bayi selama Lebaran merupakan langkah yang tepat untuk menekan risiko penularan, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan ibu hamil.

“Himbauan ini baik untuk mengurangi risiko dalam situasi Lebaran yang intensitas kontaknya tinggi, termasuk melindungi bayi, lansia, dan ibu hamil yang merupakan kelompok rentan,” ujarnya.

Dicky juga mengingatkan masyarakat yang sedang sakit untuk tidak memaksakan diri melakukan kunjungan saat Lebaran.

“Apalagi kalau sedang sakit, jangan memaksakan untuk mengunjungi orang lain, sebaiknya istirahat sampai sembuh,” katanya.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, mengingatkan masyarakat agar mengurangi kebiasaan menyentuh bayi atau balita saat bersilaturahmi.

“Kebiasaan asal sentuh anak balita, bayi, terutama saat Lebaran sebaiknya dikurangi atau bahkan dihindari, karena risiko penularan tinggi,” ujar Andi dalam konferensi pers daring.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak berkumpul apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami gejala campak.

“Kalau ada tanda suspek campak, seperti ruam kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul,” katanya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan hingga minggu ke-8 tahun 2026 tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus terkonfirmasi positif dan enam kematian.

Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

(rtd)

No more pages