Logo Bloomberg Technoz

“Atau produsen baru memang menjadi langkah yang rasional untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan yang secara geopolitik sangat volatil. Apalagi, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap ancaman terhadap jalur ini akan langsung memicu kepanikan pasar dan lonjakan harga berbasis ekspektasi,” kata Yusuf ketika dihubungi, Senin (16/3/2026).

Ketahanan Domestik

Bagaimanapun, dia menilai langkah pemerintah tidak boleh berhenti pada diversifikasi kontrak impor saja.

Dia menyarankan, agar pemerintah memperkuat ketahanan energi domestik dengan membangun cadangan minyak strategis yang memadai, meningkatkan kapasitas kilang dalam negeri, serta mulai mengaktifkan instrumen lindung nilai harga (hedging) minyak agar APBN tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga global.

“Bagi Indonesia, menurut saya peringatan ini harus diperlakukan sebagai alarm serius. Indonesia merupakan net importer minyak, sehingga kenaikan harga energi global akan langsung menekan beberapa sektor sekaligus: mulai dari APBN melalui peningkatan subsidi energi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga risiko pelebaran defisit transaksi berjalan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yusuf memandang harga minyak mentah bisa saja menyentuh level US$200/barel jika terjadi gangguan pada fasilitas pengolahan minyak di Timur Tengah dan Selat Hormuz ditutup dalam jangka waktu yang panjang.

Meskipun begitu, harga minyak di level tersebut diprediksi tidak bakal bertahan lama sebab bakal segera ditespons dengan intervensi pasokan global.

Bahkan, dalam kondisi ekstrem, Yusuf menilai negara barat bisa saja bisa melonggarkan pembatasan ekspor energi dari Rusia agar pasokan global tetap terjaga.

“Mereka memiliki beberapa instrumen, mulai dari pelepasan cadangan minyak strategis oleh negara-negara anggota International Energy Agency [IEA], peningkatan produksi dari produsen besar seperti Amerika Serikat atau Brasil, hingga koordinasi pasokan dengan produsen lain seperti Norwegia atau negara-negara OPEC+,” kata Yusuf.

Sebuah kapal tanker minyak bersiap untuk mengangkut minyak mentah ke pasar ekspor di Bandar Abbas, Iran pada 2018./Bloomberg-Ali Mohammad

Sebelumnya, Iran memperingatkan potensi lonjakan tajam harga minyak global hingga US$200/barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam jalur pasokan energi dunia di Selat Hormuz.

Mengutip dari Al Jazeera, Minggu (15/3/2026), peringatan tersebut disampaikan oleh juru bicara komando militer Iran yang menyatakan pasar energi global harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak jika konflik regional terus meningkat.

Pejabat militer Iran menegaskan harga minyak sangat bergantung pada stabilitas keamanan kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu titik paling vital bagi perdagangan energi global.

Dalam pernyataannya, dia mengatakan dunia harus “bersiap menghadapi harga minyak US$200/barel” jika ketegangan terus berlanjut.

“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan harga minyak akan berada di angka US$200/barel,” kata juru bicara itu dalam sebuah pernyataan.

“Harga minyak bergantung pada keamanan regional, dan Anda adalah sumber utama ketidakamanan di kawasan ini.” ujar Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC.

Ancaman tersebut muncul di tengah konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Iran sebelumnya juga memperingatkan kapal tanker minyak yang menuju negara-negara yang dianggap musuh dapat menjadi target, sehingga berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman energi strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut dapat memicu gejolak besar di pasar energi global.

Minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 0,8% menjadi US$103,98/barel pada pukul 9:55 pagi ini di Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 0,3% menjadi US$98,46/barel.

Adapun, berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.

Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.  

Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.

Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.

(azr/wdh)

No more pages