Logo Bloomberg Technoz

Menurut Ali, wilayah di luar Pulau Jawa masih belum memiliki fasilitas pencampuran yang memadai. Dengan begitu, dia menyatakan riset yang dilakukan K3EPB bakal turut memuat rekomendasi penguatan infrastruktur pendukung BBM nabati.

“Apakah siap di Sumatra? Apakah siap di Kalimantan? Nah mesti kita lihat. Belum tentu semua wilayahnya sudah siap. Kemudian daerah-daerah yang tidak siap kita kasih rekomendasi; 'Oh daerah sana harus tambah infrastrukturnya'," ujar Ali.

Biaya Distribusi

Lebih lanjut, dia menyatakan bahkan ketika infrastruktur pengolahan biodiesel maupun bioetanol terbentuk secara optimal, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk membuat biaya distribusinya melandai dan memastikan ketersediaan bahan baku.

Ali mencatat biaya distribusi menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan harga bahan bakar nabati masih lebih tinggi dari bahan bakar minyak (BBM) konvensional.

Nah, kemudian muncul lagi bagaimana pola distribusinya. Kan selama ini distribusi itulah yang menghabiskan biaya menjadi faktor yang menyebabkan harga itu menjadi tinggi,” kata dia.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan tengah membuka peluang untuk mengkerek campuran fatty acid methyl ester (FAME) dalam BBM jenis diesel menjadi 60% atau memandatorikan biodiesel B60.

Hal itu dilakukan guna memitigasi dampak rambatan dari kenaikan harga minyak dan potensi pengetatan pasokan dari Timur Tengah.

Bahlil menyatakan saat ini pemerintah masih menguji coba biodiesel B50 dan diharapkan rampung pada semester II-2026.

Akan tetapi, Bahlil menilai dengan potensi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang dimiliki Indonesia, bisa saja campuran FAME dalam diesel tersebut dikerek naik menjadi B60.

“Kita B50 sekarang masih dalam uji coba. Nanti di semester dua uji cobanya sudah selesai. Ini juga ada hikmatnya karena kita diberikan karunia oleh Allah kita mempunyai CPO. Supaya kalau kemudian kejadian ini terus terjadi, ya kita tingkatkan ke B50, bisa ke B60, atau sebagian kita switch untuk ke bensin,” ujar Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (10/3/2026).

Bahlil menyatakan pemerintah bakal memanfaatkan sumber daya dalam negeri secara maksimal guna memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian yang terjadi gegara perang di Timur Tengah.

Ihwal potensi pembatasan konsumsi BBM jenis bensin, Bahlil menyatakan pemerintah tengah fokus memastikan pasokan bensin untuk Idulfitri 2026 terjaga.

Dia mengungkapkan, saat ini cadangan operasional Indonesia tahan selama 21—23 hari dan dalam kondisi normal.

Di sisi lain, sejumlah negara sudah mulai menerapkan pengetatan konsumsi BBM hingga melakukan kebijakan untuk melindungi pasokan bensin domestik.

Salah satu contohnya Vietnam, negara itu bakal menghapus tarif impor BBM dan mempermudah perusahaan raksasa negara PetroVietnam untuk membeli dan menjual minyak mentah dan produk minyak, seiring dengan meluasnya perang di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan keamanan energi.

Selain itu, Myanmar memberlakukan pembatasan kendaraan pribadi, menyusul gangguan pada jalur perdagangan migas di Timur Tengah.

Mobil pribadi dan sepeda motor—kecuali kendaraan listrik—hanya akan diizinkan beroperasi di jalan raya setiap dua hari sekali berdasarkan nomor pelat kendaraan mereka.

Terbaru, pemerintah Thailand akan mewajibkan sebagian besar instansi pemerintah untuk menerapkan sistem kerja dari rumah (WFH) sepenuhnya sebagai bagian dari langkah-langkah darurat untuk menekan permintaan energi.

Kapasitas produksi biofuel di kilang Indonesia./dok. BMI

Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (Apsendo) mencatat saat ini hanya sekitar 4—5 pabrik bioetanol yang masih aktif dari total 13 pabrik terpasang di Indonesia. 

Masing-masing pabrik memiliki kapasitas produksi sekitar 100 kiloliter (kl) per hari dan tersebar di Pulau Jawa serta Lampung.

Untuk mendukung program pencampuran bensin dengan 10% bioetanol atau E10, Apsensi menilai RI membutuhkan tambahan sekitar 7 pabrik bioetanol baru dengan kapasitas masing-masing sekitar 120 kl per hari.

Saat ini, kapasitas produksi bioetanol berbasis tetes tebu atau molase tercatat sekitar 303.000 kl, tetapi tingkat utilisasinya pada 2024 baru mencapai sekitar 172.000 kl.

Sebagian besar produksi etanol tersebut masih diserap untuk kebutuhan industri kosmetik, farmasi, dan pangan di dalam negeri.

Di sisi lain, BMI, lengan riset Fitch Solutions bagian dari Fitch Group, menilai kapasitas kilang biofuel domestik dinilai masih terbatas untuk mengakomodasi peningkatan bauran CPO dalam biodiesel dari level B40 menjadi B50.

BMI memproyeksikan konsumsi solar Indonesia akan mencapai sekitar 40,9 juta kl pada 2026, atau naik 6,5% secara tahunan.

Dengan skenario pencampuran 50%, kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkat hingga sekitar 20,5 juta kl. Sementara itu, kapasitas produksi biodiesel domestik saat ini baru mencapai sekitar 19,6 juta kl.

(azr/wdh)

No more pages