Logo Bloomberg Technoz

"Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, sejauh ini. Jadi, ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang," tulis Trump di media sosial. Ia menambahkan bahwa menghentikan Teheran memiliki senjata nuklir dan mencegah hancurnya Timur Tengah serta dunia "jauh lebih menarik dan penting bagi saya."

Komentar-komentar tersebut menunjukkan bagaimana Trump dan timnya terus bergelut dengan konsekuensi geopolitik dan ekonomi dari konflik yang ia mulai pada 28 Februari lalu. Kenaikan harga minyak telah mendongkrak biaya bahan bakar bagi warga Amerika menjelang pemilu sela (midterm) November mendatang, yang diprediksi akan sangat bergantung pada pandangan publik terhadap biaya hidup.

Perintah pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS berisiko menyeret personel militer Amerika ke dalam bahaya demi melindungi pasokan minyak. Terlebih lagi, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyatakan pada Kamis bahwa selat tersebut harus tetap ditutup, menandakan Teheran tidak berniat membuka kembali jalur air itu dalam waktu dekat.

Komentar Wright muncul setelah ia menghapus unggahan media sosial pada Selasa yang mengeklaim AS telah sukses mengawal sebuah tanker. Sekitar 20% minyak dan gas alam dunia melewati jalur pelayaran yang sempit tersebut. Gedung Putih kemudian meralat pernyataan itu dan membantah adanya pengawalan yang telah dilakukan.

Sejak operasi militer dimulai, perdagangan melalui Hormuz hampir berhenti total. Hal ini menghambat aliran minyak dari Teluk Persia dan membuat harga minyak mentah melonjak 40% dalam beberapa hari. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus angka US$100 per barel pada hari Kamis.

Pemerintahan Trump pada Rabu telah mengumumkan akan melepas 172 juta barel dari cadangan darurat AS (SPR) sebagai bagian dari upaya global meredam harga. Saat ini, cadangan tersebut hanya berisi sekitar 415 juta barel, atau sekitar 60% dari kapasitasnya.

Wright menjelaskan kepada CNBC bahwa AS berencana menukar 172 juta barel yang dilepas sekarang dengan lebih dari 200 juta barel yang akan dikirim di kemudian hari. Strategi ini diambil karena harga minyak berjangka untuk bulan-bulan ke depan jauh lebih murah dibandingkan harga saat ini.

"Pada akhirnya, ini justru akan membantu kita mengisi kembali cadangan tersebut," tutup Wright.

(bbn)

No more pages