Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (gross NPL) tercatat stabil di level 2,1% pada akhir 2025. Permata Bank juga memiliki permodalan yang kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 34,6%.
Pada sisi profitabilitas, Permata Bank mencatat laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar Rp6,4 triliun atau tumbuh 4,7% yoy dibandingkan sebelumnya Rp6,1 triliun. Sementara laba bersih setelah pajak mencapai Rp3,6 triliun hingga akhir 2025.
Rudy menambahkan, margin bunga bersih (NIM) berada di level 4% pada Desember 2025, sedikit turun dibandingkan 4,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya seiring tingginya persaingan suku bunga dana di industri perbankan.
Di sisi efisiensi, rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) membaik menjadi 49,6% pada akhir 2025, didorong oleh efisiensi operasional, pengelolaan biaya yang disiplin, serta peningkatan kapabilitas digital bank.
(ell)



























