Logo Bloomberg Technoz

Konsumsi Bergantung Musim

Sementara itu, indikator konsumsi, yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, mulai menunjukkan tanda moderasi. Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 125,2 memang masih berada di atas ambang optimisme yaitu 100, meski sedikit menurun dari capaian indeks pada Januari sebesar 127.

Penurunan kecil ini bisa jadi indikasi bahwa rumah tangga mulai bersikap lebih hati-hati dalam memandang ekonomi ke depan. 

Hal serupa tercermin dalam data penjualan ritel. Kondisi penjualan ritel memang mencatatkan pertumbuhan secara tahunan sebesar 5,7%, tetapi secara bulanan terkontraksi 2,7%.

Pendorong penjualan datang dari kelompok barang budaya dan rekreasi yang tumbuh sebesar 15,9% secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 8,1%, dan sandang 3,4%. 

Sebaliknya, beberapa sektor justru menunjukkan kontraksi. Seperti peralatan informasi dan komunikasi terkontraksi cukup dalam sebesar  22,5%. Lemahnya penjualan pada kelompok ini menunjukkan daya beli tidak sepenuhnya kuat, dan mengindikasikan rumah tangga lebih selektif dalam berbelanja. 

Selain itu kelompok lain juga tercatat berada di zona kontraksi seperti Suku Cadang dan Aksesori 3,8% secara bulanan, Makanan, Minuman dan Tembakau juga terkontraksi 2,5% secara bulanan, dan sub kelompok sandang terkontraksi 3%. Hal ini terjadi lantaran berakhirnya momentum musiman Natal dan Tahun Baru. 

Laporan BI ini juga memproyeksikan ada Februari penjualan ritel diperkirakan naik menjadi 6,9% secara tahunan. Pendorong utamanya adalah faktor musiman seperti adanya bulan Ramadan, dan persiapan Idul Fitri.

Kedua hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi domestik semakin bergantung pada faktor musiman, bukan karena momentum ekonomi yang bersifat struktural. Setelah musim Natal dan Tahun Baru berakhir, maka tingkat penjualan pun menurun. Begitu juga dengan adanya momentum musim Ramadan dan Idul Fitri membuat tingkat penjualan riil naik lagi. 

Sementara, dari sektor otomotif terjadi ada sedikit perbaikan. Penjualan mobil sebagai durable goods sering jadi indikator ketahanan ekonomi kelas menengah, masih relatif stabil.

Penjualan mobil pada Februari memang melonjak dan tembus 81.159 unit, naik 22,1% daripada Januari 2026 hanya 66.447 unit. Lagi-lagi momentum Ramadan dan Lebaran yang identik dengan peningkatan mobilitas ikut memberi dorongan pada penjualan otomotif bulan ini. 

Tumbuh Moderat

Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, perekonomian Indonesia masih tumbuh, tetapi relatif terbatas. Saat ini, inflasi meningkat, konsumsi sedikit melambat, dan aktivitas ekonomi belum menunjukkan akselerasi yang cukup kuat dan berkelanjutan. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat 5,11% mencerminkan bahwa ekonomi masih bertahan di tengah tekanan eksternal yang terjadi di tahun lalu. Namun volatilitas yang terjadi membuat ruang untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, relatif terbatas. 

Berdasarkan Survei Bloomberg terhadap lebih dari 20 ekonom memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5% pada 2025, 2026 hingga 2027. Angka pertumbuhan ini mungkin cukup untuk bertahan, tetapi tak cukup kuat untuk akselerasi yang diharapkan pemerintah dan masyarakat, apalagi untuk naik ke jenjang pertumbuhan 8%. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun.

Apalagi dengan ketegangan geopolitik yang membuat harga energi melonjak, pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang seringkali mengandalkan konsumsi domestik, menjadi lebih rentan. Kenaikan harga energi membayangi inflasi yang pada akhirnya dapat menekan tingkat konsumsi rumah tangga yang jadi tulang punggung pertumbuhan. 

Tanda-tanda moderasi konsumsi juga terlihat dari komposisi penjualan ritel yang lebih banyak ditopang oleh kelompok kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, dan tembakau, serta barang sandang dan rekreasi. Jika tren ini berlanjut, artinya masyarakat semakin lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. 

Selama pemerintah dapat menjaga stabilitas harga, dan melindungi daya beli masyarakat, dan mempertahankan kepercayaan investor perekonomian domestik masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan global. Namun, jika daya beli masyarakat tergerus lantaran inflasi yang melambung, maka ruang pertumbuhan ekonomi berpotensi semakin sempit.

(dsp/aji)

No more pages