Ketidakpastian geopolitik ini berdampak langsung pada ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya menyulitkan langkah The Fed dalam menentukan suku bunga. Bahkan rencana pelepasan cadangan minyak besar-besaran pun belum mampu meredam ketakutan akan tekanan harga baru.
"Meskipun ada prospek pelepasan cadangan minyak, ketidakpastian yang terus berlanjut memicu risiko kenaikan harga minyak lebih lanjut. Hal ini membuat The Fed akan tetap berhati-hati dalam memangkas suku bunga," ujar Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pelepasan cadangan minyak besar-besaran yang disetujui IEA akan meredakan tekanan harga energi, sementara AS berupaya "menyelesaikan tugas" dalam kampanyenya melawan Iran.
Di sisi lain, pejabat yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa Iran telah menyampaikan kepada mediator regional terkait syarat gencatan senjata. AS harus menjamin bahwa pihaknya maupun Israel tidak akan menyerang Iran di masa depan.
Secara terpisah, Trump bersiap menggunakan wewenangnya untuk mengizinkan kembali produksi minyak di lepas pantai California Selatan. Trump juga menyatakan ketidakyakinannya bahwa Iran memasang ranjau di Selat Hormuz dan kembali menegaskan bahwa perang akan segera berakhir.
Dari kawasan Asia, Yen menyentuh level terlemahnya terhadap Dolar AS sejak Januari pada hari Rabu, sebelum stabil di kisaran 159 per dolar pada Kamis pagi. Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) diperkirakan akan menahan suku bunga minggu depan, namun lebih dari sepertiga ekonom yang disurvei memprediksi kenaikan suku bunga acuan pada April mendatang.
Meskipun inflasi inti AS melambat di Februari sebelum perang pecah, guncangan energi akibat konflik ini berisiko memperburuk masalah daya beli masyarakat.
"Angka inflasi Februari sebenarnya menuju ke arah yang benar, namun konflik di Timur Tengah muncul dan kini jalur tersebut berubah," kata Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management.
Meski investor kini lebih fokus pada dampak konflik Iran terhadap inflasi dalam beberapa bulan ke depan, data terbaru memberikan sedikit kepastian bahwa tekanan harga sebelumnya tidak bergerak ke arah yang salah sebelum guncangan energi terbaru, kata Seema Shah dari Principal Asset Management.
“The Fed secara historis cenderung melihat lonjakan harga yang dipicu energi sebagai faktor sementara,” ujarnya. “Namun dengan inflasi yang telah berada di atas target hampir lima tahun, mungkin akan lebih sulit untuk melakukannya kali ini.”
Data yang akan dirilis Jumat diprediksi akan menunjukkan gambaran inflasi yang masih "membandel". Para ekonom memperkirakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti—indikator inflasi favorit The Fed—akan naik 0,4% lagi di Januari, dengan kenaikan tahunan mencapai 3,1%.
(bbn)




























