“Mengingat kontribusi kedua sektor tersebut signifikan, rencana penurunan kuota produksi nanti akan kita perhatikan dengan sangat baik, [baik untuk] batu bara baik juga untuk nikel.”
Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana memangkas kuota produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi sekitar 600 juta ton dari realisasi tahun lalu sebanyak 790 juta ton.
Adapun, rencana produksi dalam RKAB nikel dipangkas menjadi sekitar 250—260 juta ton dari realisasi tahun lalu sejumlah 379 juta ton.
Terkait dengan PNBP,secara kumulatif, sampai dengan akhir Februari, pemerintah telah mengumpulkan Rp68,7 triliun atau 14,8% dari target APBN.
Angka tersebut, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dan tanpa menyertakan dividen BUMN, mengalami pertumbuhan 3,2%.
“Kenapa? Karena tahun lalu itu dividen masih ada yang masuk sedikit ke dalam APBN, khususnya pada Januari. Setelah 2025, kita tahun tidak ada lagi dividen masuk ke APBN, karena itu perbandingannya kita buatkan tanpa mengikutsertakan dividen dari kekayaan negara dipisahkan. Jadi [PNBP] tetap tumbuh,” kata Suahasil.
(wdh/red)
































