Selain itu, masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker ketika berada di kerumunan.
Orang tua juga diingatkan untuk memeriksa status imunisasi anak dan melengkapinya apabila belum lengkap guna mencegah penyebaran campak.
Andi juga menyampaikan bahwa tren kasus campak meningkat pada awal tahun sebelum mulai menurun pada Februari 2026.
“Pertama, bahwa tren kasus dan suspek campak meningkat pada Januari, dan kemudian mulai menurun sepanjang Februari tahun 2026 ini,” ujarnya.
Data hingga minggu ke-8 tahun 2026 menunjukkan total 10.453 kasus suspek campak secara kumulatif. Angka tersebut bertambah 506 kasus dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara itu, kasus yang telah dikonfirmasi tercatat sebanyak 8.372 kasus atau meningkat 450 kasus dari pekan sebelumnya.
Selain itu, terdapat penambahan satu kasus kematian dibandingkan minggu ke-7 tahun ini.
Pemerintah juga mencatat adanya kejadian luar biasa campak di berbagai wilayah. “Kemudian, hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 45 kejadian luar biasa atau KLB campak di 29 kota di 11 provinsi,” kata Andi.
Sebaran provinsi yang terdampak meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Di Nusa Tenggara Barat misalnya, KLB tercatat terjadi di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu.
(rtd)






























