Meski harga minyak volatil, pasar saham Asia yang sudah dibuka cenderung menguat. Pada pukul 07:20 WIB, indeks Nikkei 225 naik 1,52%, Hang Seng naik 22,17%, Topix juga terapresiasi 1,3%.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama juga kembali menguat pagi ini sebanyak 0,11% ke 98,93. Penguatan dolar AS membuat pergerakan mata uang di pasar Asia cenderung beragam.
Baht Thailand memimpin penguatan sebanyak 0,25%, yuan offshore China juga menguat terbatas 0,09%, yen Jepang 0,04%, dolar Hong Kong 0,03%. Sebaliknya, won Korea Selatan melemah 0,22%, dan ringgit Malaysia 0,06%.
Sementara itu, pergerakan rupiah hari ini masih akan dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga minyak. Harga minyak dapat memengaruhi inflasi domestik yang saat ini sudah cukup tinggi, serta dapat menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan.
Apabila harga minyak kembali bertahan di atas US$90 per barel dalam waktu yang lama, tekanan terhadap impor energi berpotensi meningkat adn mempersempit ruang stabilisasi rupiah.
Dengan volatilnya harga minyak dan kembali bertengger di atas US$90 per barel, pergerakan rupiah spot akan bergerak sideways dengan bias melemah terbatas seperti yang ditunjukkan di pasar offshore pagi ini.
Di sisi lain, volatilitas harga minyak juga berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global. Kenaikan harga energi berpotensi menyebabkan tekanan inflasi, dan dapat membuat bank sentral global, terutama The Fed, cenderung berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.
Jika ekspektasi penurunan suku bunga AS tertunda lagi, maka arus modal global cenderung tetap berhati-hati terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sentimen risk-off memang sedikit mereda setelah harga minyak sempat turun tajam pada perdagangan kemarin, namun pasar masih menilai situasi saat ini masih sangat cair serta mudah berubah, dan memasang mode wait and see.
(dsp/aji)






























