Pada hari ke-11 perang, AS dan Iran terus meningkatkan intensitas serangan. Gedung Putih menyatakan tetap membuka berbagai opsi untuk mengatasi volatilitas energi. Mereka juga mengonfirmasi bahwa AS belum melakukan pengawalan kapal tanker melalui Selat Hormuz, membantah unggahan media sosial Menteri Energi Chris Wright yang kini telah dihapus.
Presiden Donald Trump telah memperingatkan Iran agar tidak memasang ranjau di titik jalur energi vital tersebut menyusul laporan intelijen yang mengindikasikan Iran sedang bersiap melakukannya. Sementara itu, negara-negara anggota G-7 telah meminta badan energi utama mereka untuk menyiapkan skenario pelepasan cadangan minyak darurat.
Harga minyak mentah telah melonjak hampir 40% sejak awal tahun. Penutupan efektif Selat Hormuz, yang melayani seperlima aliran minyak global, memaksa produsen untuk memangkas output. Penurunan harga pada Selasa terjadi karena adanya ekspektasi bahwa para pemimpin dunia akan melakukan intervensi sebelum guncangan pasokan terburuk benar-benar terjadi.
“Meski trader menyambut penurunan mendadak harga minyak, latar belakang geopolitik masih jauh dari stabil,” kata Fawad Razaqzada dari Forex.com. “Faktor penentu terbesar bagi pasar adalah apakah pasokan energi dari kawasan tersebut bisa kembali normal.”
Di sektor lain, indeks S&P 500 turun 0,2%, namun saham Oracle Corp melonjak di perdagangan pasca-pasar setelah melaporkan pendapatan yang melampaui estimasi. Emas bergerak stabil, sementara imbal hasil (yield) Treasury 10-tahun naik enam basis poin menjadi 4,16%.
“Konflik di Timur Tengah dan berbagai pemberitaan terkait masih menjadi sumber utama fluktuasi pasar, dengan saham, minyak, dan suku bunga sama-sama mencoba menemukan keseimbangan,” kata Sameer Samana dari Wells Fargo Investment Institute. “Kami akan terus mencoba melihat melampaui berita jangka pendek tersebut.”
Investor yang bertaruh bahwa kenaikan harga minyak akan mendorong respons kebijakan moneter yang lebih agresif dari Federal Reserve kemungkinan salah membaca situasi, menurut Bank of America Corp, yang memperingatkan bahwa guncangan pasokan juga dapat memicu periode suku bunga stabil bahkan pemangkasan tajam.
Ekonom AS Aditya Bhave mencatat bahwa guncangan energi tidak selalu bersifat hawkish, karena dapat menciptakan ketegangan antara mandat bank sentral untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung lapangan kerja.
Di tengah gejolak di Wall Street akibat volatilitas minyak, para pelaku pasar bersiap menghadapi data inflasi yang akan dirilis setelah laporan ketenagakerjaan terbaru menantang pandangan bahwa pasar tenaga kerja mulai stabil.
Laporan indeks harga konsumen (IHK) pada Rabu diperkirakan menunjukkan inflasi inti—yang tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak—naik hanya 0,2% pada bulan lalu. Hal itu mengindikasikan adanya sedikit pelonggaran tekanan harga sebelum pecahnya perang Iran yang kembali menimbulkan ketidakpastian terhadap prospek inflasi.
Meski laporan tersebut kini sedikit berkurang pengaruhnya setelah lonjakan harga energi belakangan ini, tanda-tanda tambahan tekanan inflasi dapat menjadi “lonceng kematian” bagi harapan pemangkasan suku bunga tahun ini, menurut David Morrison dari Trade Nation.
(bbn)





























