Logo Bloomberg Technoz

Dengan demikian, saham TLKM masih menyimpan potensi kenaikan sekitar 30% dari posisi saat ini.

Sebelumnya, manajemen TLKM memastikan bakal tetap mempertahankan kebijakan dividen jumbo untuk pemegang saham pada periode tahun buku 2025.

Adapun, TLKM membagikan dividen tahun buku 2024 dengan rasio atau dividend payout ratio 89% dari total laba bersih saat itu. Alokasi dividen yang dibagikan sebesar Rp21,04 triliun, setara dengan Rp212,5 per saham.

Sementara itu, TLKM membagikan dividen dengan rasio sebesar 72% pada tahun buku 2023. Saat itu jatah dividen yang dibagikan mencapai Rp17,68 triliun atau Rp178,5 per saham.

Belakangan, sejumlah sekuritas global dan domestik mempertahankan pandangan positif terhadap TLKM, di antaranya CGS International, Mandiri Sekuritas, UBS, hingga Citi dengan target harga yang umumnya berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp4.100 per saham.

Prediksi tertinggi mencapai Rp5.100 per saham oleh analis asal PT Indo Premier Sekuritas, Aurelia Amanda.

Sementara itu, prediksi nilai terendah disampaikan oleh analis Morgan Stanley, Dawei Lee, dengan target harga Rp3.200 per saham.

Dengan rasio pembayaran dividen yang tetap tinggi, TLKM diperkirakan mampu mempertahankan dividend yield yang kompetitif, menjadikannya salah satu saham defensif yang masih menarik bagi investor jangka menengah.

Kombinasi antara dividen jumbo dan potensi kenaikan harga saham membuat TLKM masih menjadi salah satu saham yang dipantau investor di tengah dinamika pasar ekuitas domestik.

Laba Kuartal III-2025

TLKM mencatat laba bersih turun 10,69% secara tahunan menjadi Rp15,78 triliun dari Rp17,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sepanjang Januari–September 2025, Telkom membukukan pendapatan Rp109,61 triliun, turun 2,31% dibandingkan Rp112,22 triliun pada kuartal III-2024. 

Pendapatan TLKM ditopang oleh beberapa lini bisnis, terdiri atas segmen data, internet, dan layanan IT sebesar Rp64,8 triliun, IndiHome Rp19,73 triliun, interkoneksi Rp7,1 triliun, layanan SMS, fixed, dan cellular voice Rp6,7 triliun, serta jaringan dan jasa telekomunikasi lainnya Rp11,27 triliun. 

Dua segmen utama Telkom mengalami penurunan, yaitu segmen legasi yang melemah 15% dan segmen data, internet, serta IT service yang turun 4,6% pada periode yang sama tahun lalu. 

Di sisi lain, beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi tercatat sebesar Rp30,28 triliun, beban penyusutan dan amortisasi Rp25,06 triliun, beban karyawan Rp11,9 triliun, beban interkoneksi Rp5,66 triliun, beban umum dan administrasi Rp5 triliun, serta beban pemasaran Rp2,37 triliun. 

(fik/naw)

No more pages