Logo Bloomberg Technoz

Dengan menyediakan seri jangka pendek, pemerintah agaknya ingin memastikan partisipasi bank dan investor pasar uang tetap tinggi. Sedangkan, seri PBS yang memiliki tenor panjang, memberi kesempatan bagi pemerintah untuk mengunci biaya pembiayaan dalam jangka panjang, itu pun apabila kondisi pasar memungkinkan. 

Dalam konteks global saat ini, investor biasanya cenderung menghindari durasi panjang dan memilih instrumen yang lebih aman dan berjangka pendek. Mungkin instrumen seperti seri SPN-S lebih akan diminati dalam lelang hari ini. 

Di sisi lain, seri tenor menengah seperti PBS030 dan PBS040 kemungkinan masih akan menarik bagi investor institusional domestik seperti industri dana pensiun,  dan perusahaan asuransi. Tenor yang tidak terlalu panjang 2Y hingga 7Y, membuat instrumen ini relatif tahan terhadap fluktuasi yield global, dibandingkan sukuk dengan jatuh tempo lebih dari 10 tahun. 

Investor Hijau

Di tengah tuntutan target Sustainable Development Goals, pertumbuhan investor yang mempraktikkan Environmental, Social, Governance (ESG) dalam perusahaannya cukup tinggi. Investor ini umumnya juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan menjadi bagian dalam strategi pengembangan portofolio investasi perusahaan. 

Dalam hal ini pemerintah menawarkan seri PBSG002 sebagai green sukuk. Instrumen ini adalah bagian dari pembiayaan berkelanjutan Indonesia yang beberapa tahun terakhir mendapat perhatian investor global. 

Green sukuk tak cuma jadi sumber pembiayaan proyek ramah lingkungan, tapi juga membuka akses pada basis investor yang lebih luas. Melansir data dari Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia yang dirilis OJK tahun lalu menyebut, green sukuk domestik tumbuh dari menjadi Rp9,4 triliun dari Rp4,4 triliun. 

Hal ini sejalan dengan tren global yang mencatat kenaikan penerbitan green sukuk internasional yang diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat dari US$1 miliar pada 2024 menjadi US$2,25 miliar pada 2026. 

Sentimen Risk-Off

Instrumen lain yang ditawarkan dalam lelang hari ini adalah PBS034 dan PBS038 yang memiliki tenor cukup panjang hingga 2039 dan 2049. Kedua seri ini cenderung memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan suku bunga global. 

Apabila sentimen risk-off kembali mendominasi pasar domestik, maka investor umumnya akan meminta premi imbal hasil yang lebih tinggi untuk menanggung risiko durasi tersebut. 

Tak jarang pemerintah tetap menyerap sedikit porsi dari penawaran yang masuk di seri panjang dalam kondisi seperti ini untuk memperpanjang rata-rata masa jatuh tempo utang. 

Apabila melihat dinamika pasar saat ini, total penawaran yang masuk dalam lelang kemungkinan masih cukup baik meski mungkin masih ada sentimen risk-off dari efek kemungkinan adanya lanjutan perang.

Apalagi dengan imbal hasil yang ditawarkan saat ini di rentang 5,87% hingga 6,87%, dan diikuti oleh dealer yang terdiri dari bank-bank besar baik domestik dan internasional serta perusahaan sekuritas.    

Dengan target indikatif Rp11 triliun dan ruang fleksibilitas hingga 200% alias dua kali lipat, pemerintah kemungkinan akan memenangkan sekitar Rp15triliun atau lebih.

Sebagai catatan, dalam lelang sukuk sebelumnya pada 24 Februari penawaran yang masuk mencapai Rp32,6 triliun dengan nilai yang dimenangkan sebesar Rp20 triliun. 

(dsp/aji)

No more pages