Logo Bloomberg Technoz

Sementara, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama juga melemah 0,39% ke level 98,79. 

Nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS pada Selasa 10/3/2026. (Bloomberg)

Potensi Lanjutan

Meski Trump menyatakan perang akan segera berakhir, tetapi dia juga mengakui masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai kepemimpinan di Teheran, dan dia berjanji bahwa tak akan berhenti sampai benar-benar merasa menang. 

"Kami sudah menang dalam banyak hal, tapi kami belum menang cukup. Kami akan terus maju dengan tekad yang lebih besar untuk mencapai kemenangan yang aakn mengakhiri bahaya ini untuk selamanya," kata Trump. 

Praktis perkataan ini Trump menganulir pernyataan sebelumnya yang menyebut serangannya di Teheran merupakan operasi jangka pendek, dan membuat potensi risk-off masih tetap ada. Dengan kondisi bahwa kelangkaan minyak mentah dunia masih mungkin terjadi selama kondisi Selat Hormuz belum cukup kondusif untuk dilewati. 

Keterbatasan terhadap akses minyak dunia ini membuat pasar keuangan negara berkembang bereaksi berdasarkan tingkat kerentanannya masing-masing terhadap kebutuhan minyak dunia. Beberapa mata uang seperti won Korea Selatan, rupee India, dan peso Filipina cenderung lebih rentan, karena ketiga negara tersebut memiliki sensitivitas tinggi terhadap minyak. 

Laporan dari MUFG menilai setiap kenaikan minyak US$10 per barel dapat menurnkan posisi neraca transaksi berjalan negara-negara Asia sekitar 0,2% hingga 0,9% dari PDB. Dampak yang lebih besar dari sisi transaksi berjalan diperkirakan akan dialami oleh Thailand, Singapura, Taiwan dan India. 

Akan tetapi, negara seperti Indonesia, dan Malaysia, yang negaranya memiliki perusahaan minyak kemungkinan akan menanggung sebagian kenaikan harga energi setidaknya pada tahap awal, sehingga dampak inflasi domestik lebih terbatas.

Dalam konteks Indonesia, kebijakan subsidi dan pengaturan harga energi dapat memperlambat transmisi kenaikan harga minyak global ke inflasi domestik. Namun, bantalan kebijakan ini tetap punya risiko. Apabila harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu lama, beban fiskal pemerintah dapat meningkat.

Dalam skenario Kementerian Keuangan, jika tak ada perubahan realokasi anggaran, lonjakan harga energi sebesar US$92 per barel sepanjang tahun dapat berpotensi memperlebar defisit menjadi 3,6% PDB. 

Artinya, stabilitas rupiah dalam jangka pendek memang masih bisa ditopang oleh kombinasi kebijakan energi dan intervensi pasar. Namun dalam jangka lebih panjang, agaknya ketahanan ekonomi Indonesia tetap akan bergantung pada stabilitas geopolitik dan harga energi global, terlebih dengan kondisi fiskal yang masih mencatatkan defisit. 

Menurut Analis Mata Uang Bloomberg, Stephen Chiu, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih dapat berlanjut bahkan jika sentimen terhadap dolar AS mulai mereda. "Perhatian pasar kemungkinan kebali tertuju pada kondisi fiskal Indonesia. Bahkan sebelum konflik pecah, investor sudah menyoroti ketahanan fiskal ekonomi serta independensi bank sentral," sebut Chiu dalam laporannya.

Selain itu, arus keluar dana dari pasar surat utang Indonesia diperkirakan masih berlanjut dan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Kemarin, pasar SUN mendapat tekanan jual dan mencatatkan kenaikan imbal hasil di hampir semua tenor. 

(dsp/aji)

No more pages