Kenaikan harga energi global terjadi setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak. Terlebih, kemarin (8/3/2026) waktu setempat produsen minyak di Kuwait dan Uni Emirat Arab menyatakan akan menurunkan produksi minyak akibat perang ini.
Pengurangan produksi minyak Kuwait dimulai dengan sekitar 100.000 barel per hari pada Sabtu pagi dan diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada hari Minggu, dengan pengurangan bertahap lebih lanjut tergantung pada tingkat penyimpanan dan status Selat Hormuz.
Tekanan harga Brent kontrak satu bulan yang melonjak tajam ini memperbesar risiko bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Sikap Bank Sentral
Meski begitu, tekanan inflasi tersebut dianggap belum tentu langsung memicu pengetatan kenbijakan moneter. Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan mengingat pertumbuhan ekonomi domestik masih relatif rapuh, sementara kenaikan harga energi berpotensi menggerus daya beli rumah tangga.
"Dalam kondisi seperti ini, BI kemungkinan akan lebih memfokuskan perhatian pada inflasi inti dibandingkan inflasi umum," ujar Tamara, masih dalam laporan yang sama.
Sebab, pendekatan ini pernah dilakukan BI sebelumyaa saat terjadi lonjakan harga pascapandemi Covid-19 yang memicu tekanan harga lantaran kenaikan harga komoditas.
Sebelum konflik AS-Iran meningkat, BI masih melihat kemungkinan adanya ruang pelonggaran kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain kebijakan moneter, pemerintah juga masih memiliki instrumen fiskal untuk meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi domestik. Misalnya seperti subsidi energi dan pengaturan harga bahan bakar yang selama ini seringkali digunakan untuk menahan transmisi langsung dari lonjakan harga minyak global.
Di sisi lain, BI juga sepertinya tidak akan tergesa-gesa untuk melakukan pengetatan kebijakan, terutama jika kenaikan inflasi dinilai bersifat sementara dan apabila tidak memicu efek putaran kedua seperti adanya kenaikan upah atau lonjakan inflasi inti.
(dsp/aji)



























