Logo Bloomberg Technoz

Menebak Arah Rupiah Saat Harga Minyak Tembus US$100/Barel

Tim Riset Bloomberg Technoz
09 March 2026 08:16

Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga menukarkan uang dolar AS ke rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverabele Forward (NDF) masih defensif. Selama tiga hari terakhri, rupiah offshore bergerak di rentang Rp16.886-17.007/US$, dengan rata-rata di Rp16.945/US$. 

Pada perdagangan offshore pagi ini, Senin (9/3/2026), rupiah berada di level Rp16.900-an/US$ dengan penguatan tipis saja 0,08% menjadi Rp16.946/US$ dari penutupan pada sesi perdagangan akhir pekan di Rp16.16.960/US$. 

Rupiah offshore sempat mengalami tingkat volatilitas yang cukup tinggi pada perdagangan Jumat, di saat perdagangan spot di Indonesia tutup dan berada di Rp17.007/US$ pada Jumat (6/3/2026) pukul 21:24 WIB. 

Pergerakan harga kontrak rupiah offshore dalam tiga hari terakhir perdagangan hingga Senin pagi (9/3/2026) 07.00 WIB. (Bloomberg).

Indek dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama menunjukkan kenaikan 0,35% ke 99,32 lalu kembali naik sebesar 0,58% menjadi 99,56. Dari pasar Asia yang sudah dibuka mayoritas mata uang bergerak di zona merah. 

Ringgit Malaysia memimpin pelemahan dengan terpangkas 0,57%, disusul dolar Singapura 0,53%, yen Jepang 0,43%, won Korea Selatan 0,41%, dan yuan offshore 0,32%. Sebaliknya, dari zona hijau hanya ada dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,08% saja.