Kembali menguatnya indeks dolar AS menyusul eskalasi perang masih memanas di hari kesembilan. Sejumlah negara Arab di kawasan Teluk Persia masih menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran, dan menyatakan memiliki kapasitas untuk mempertahankan perang selama berbulan-bulan.
Israel menyerang depot bahan bakar di Teheran dan mengancam jaringan listrik Iran, memicu peringatan dari Palang Merah tentang potensi hujan asam beracun.
Kondisi ini juga telah membuat harga minyak melejit dalam sehari terakhir dan menyentuh angka US$106,9 per barel. Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak di tengah hampir tertutupnya Selat Hormuz, jalur distribusi minyak yang dilewati sekitar 20% ekspor energi dunia.
Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dengan tingkat produksi lebih dari 3,5 juta barel per hari pada Januari, pernyataan pemangkasan produksi ini membuat harga minyak melejit. Pagi ini, Brent diperdagangkan mendekati US$110 per barel, lebih mahal sekitar US$40 dari penutupan pekan lalu pada Jumat (6/3/2026).
Menurut ekonom Bloomberg Economics Ziad Daoud dan analis geoekonomi Dina Esfandiary, pasar keuangan kemungkinan meremehkan dampak perang ini, padahal gangguan pasokan energi berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah.
Dari pasar dalam negeri, pemerintah belum menyatakan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Namun, dengan asumsi harga minyak di US$70 per barel dalam APBN 2026, jelas akan menggerus ketahanan fiskal RI.
Meski sempat ada informasi awal bahwa pemerintah mungkin akan melakukan penyesuaian kebijakan, namun belum ada tanda-tanda informasi lanjutan pos apa saja yang akan terpangkas. Pasar akan mencermati langkah kebijakan pemerintah selanjutnya, apakah program sosial yang cenderung populis akan menjadi prioritas pemangkasan atau sebaliknya tetap berjalan.
Lantas, bagaimana arah rupiah di tengah kondisi domestik yang terseret kenaikan harga energi akibat perang?
Secara teknikal, rupiah berpotensi lanjut melemah pada perdagangan hari ini. Target pelemahan menuju Rp16.940/US$ sampai dengan Rp16.960/US$.
Level selanjutnya pelemahan berharap tertahan di ke Rp16.980/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah terkonfirmasi membentuk trend bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi makin melemah hingga Rp17.000/US$n yang tercermin dari time frame harian.
Namun apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat, maka resistance terdekat dapat menuju Rp16.900/US$. Sementara rentang laju rupiah dalam resistance di antara Rp16.870/US$ sampai dengan Rp16.800/US$.
(riset/aji)




























