Sekitar sepertiga pasokan pupuk global melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran antara Teluk Persia dan Laut Arab yang diancam akan ditutup Iran untuk aktivitas kapal. Sementara itu harga gas alam — yang menjadi unsur penting dalam produksi pupuk — juga melonjak di pasar global.
Konflik tersebut terjadi pada momen yang sensitif bagi sektor pertanian global. Biaya pupuk sudah tinggi sejak sebelumnya. Petani di belahan bumi utara bersiap memupuk lahan mereka, sementara musim tanam tanaman musim dingin mendekat di belahan bumi selatan.
Gangguan ini sangat menjadi masalah bagi petani di AS, yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi harga hasil panen rendah, biaya produksi tinggi, serta volatilitas perdagangan sejak Presiden Donald Trump menjabat.
“Saya tidak ingin mengatakan ini katastrofik, tetapi waktunya benar-benar tidak bisa lebih buruk,” kata analis Bloomberg Intelligence Alexis Maxwell. “Eskalasi serangan di Timur Tengah menciptakan titik kemacetan global bagi petani.”
Jika gangguan ini berlanjut, kondisi tersebut dapat menambah tekanan inflasi, tepat ketika dunia perlahan pulih dari periode panjang kenaikan harga pangan akibat pandemi Covid-19, perang di Ukraina, dan guncangan cuaca ekstrem.
“Tanpa pupuk, hasil panen Anda turun. Jika hasil panen turun, maka pasokan gandum, beras, atau pangan lainnya di pasar menjadi lebih sedikit,” kata Philip Sunderland, pedagang pupuk di Aquifert.
“Ada kemungkinan jeda enam hingga sembilan bulan antara tanaman dipanen dan makanan sampai di meja Anda. Namun Anda bisa memperkirakan inflasi melonjak menjelang Natal.”
Reaksi pasar komoditas pertanian juga telah terjadi cepat. Harga pupuk urea di AS, yang menjadi bahan utama untuk tanam jagung sudah naik US$70 dari level tertinggi pekan sebelumnya menjadi US$550/ short ton.
Beberapa pemasok di AS juga bahkan menarik penawaran mereka, menurut laporan Bloomberg Green Markets pada Selasa.
Harga urea granular (pupuk nitrogen) asal Mesir juga melonjak hampir 27% menjadi US$620 per metrik ton. Perkiraan harga di Rusia — salah satu produsen pupuk terbesar dunia — juga meningkat tajam.
Dalam banyak kasus, penawaran produk ditarik, sementara pembeli menunggu sebelum membuat komitmen, kata Peter Harrisson, analis dari lembaga riset CRU Group.
“Sebagian besar pasar pupuk menunggu untuk menilai dampak konflik terhadap ketersediaan pasokan,” ujar Peter.
Produsen urea di India juga telah mulai mengurangi produksi setelah Qatar menghentikan pasokan gas alam cair akibat serangan, menurut sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut. Di Pakistan, perusahaan pupuk Agritech mengatakan pada Rabu bahwa pasokan gas mereka ditangguhkan.
Begitu juga di Eropa, yang sangat bergantung pada gas untuk energi, industri pupuk selama beberapa tahun terakhir sudah tertekan oleh kenaikan biaya produksi, pemangkasan produksi, dan impor murah dari Rusia.
Lonjakan harga gas akibat konflik terbaru di Timur Tengah kemungkinan akan menambah tekanan tersebut.
Produsen pupuk milik negara Polandia, Grupa Azoty SA — salah satu yang terbesar di Uni Eropa — sementara waktu menghentikan penerimaan pesanan pupuk karena harga gas yang lebih tinggi meningkatkan biaya produksi.
Ancaman kekurangan pasokan membuat petani di seluruh dunia cemas.
Rafal Derlukiewicz, pemilik pertanian organik di Polandia timur, mengatakan ia menerima telepon dari tetangganya yang menanyakan apakah ia memiliki kelebihan pupuk kandang kuda atau domba, yang biasanya ia gunakan sebagai pengganti pupuk sintetis.
“Ada sedikit kepanikan di Lubenka,” katanya. “Orang-orang tidak bisa membeli pupuk.”
Di Queensland, Australia timur laut, petani gandum dan barley Richard Golden mengatakan pemasoknya menghubunginya awal pekan ini dan memintanya segera mengambil pasokan pupuk nitrogen impor yang sebelumnya sudah dipesan — atau berisiko kehilangan pasokan tersebut kepada petani lain yang semakin khawatir.
Sekitar dua pertiga impor urea Australia berasal dari Timur Tengah.
“Kami harus menyadari bahwa jika kami tidak menganggap pengiriman ini cukup penting untuk segera diambil, maka mereka mungkin akan menawarkannya kepada orang lain,” kata Golden.
Menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan, sebagian petani kini juga mempertimbangkan kembali rencana penanaman mereka.
Petani kedelai dan jagung di Iowa, Brad Feckers, mengatakan ia semula merencanakan dua pertiga lahannya di Shell Rock ditanami jagung. Namun konflik ini membuatnya khawatir tentang kenaikan biaya nitrogen dan bisa mendorongnya mengurangi tanaman jagung.
“Jika harga nitrogen tidak turun, kami mungkin akan mengalihkan lebih banyak lahan ke kedelai,” katanya.
Namun petani kecil — terutama di negara yang sektor pertaniannya sangat sensitif terhadap perubahan harga — kemungkinan tidak mampu menimbun pupuk atau mengubah pola tanam mereka.
Hal ini dapat mempengaruhi produksi komoditas penting seperti minyak sawit, sekitar 40% di antaranya dihasilkan oleh petani kecil.
Pohon kelapa sawit yang menutupi kawasan Asia Tenggara memerlukan nutrisi dalam jumlah besar. Setiap pengurangan pemupukan dapat menekan hasil panen dalam beberapa bulan.
Lonjakan harga pupuk dapat memaksa petani kecil mengurangi dosis pemupukan atau bahkan melewati siklus pemupukan, menurut Ahmad Parveez Ghulam Kadir, direktur jenderal Malaysian Palm Oil Board.
Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia.
Untuk saat ini, cadangan gandum global masih cukup besar, sehingga membatasi dampak langsung pada harga bahan pangan seperti roti dan daging di toko.
Namun jika konflik berlanjut dan musim tanam terganggu, konsumen di seluruh dunia kemungkinan akan merasakan dampaknya.
Dampak tersebut dapat terasa lebih kuat di negara-negara berkembang, di mana petani lebih sulit menanggung kenaikan biaya produksi dan lonjakan harga pangan dapat dengan cepat berubah menjadi krisis.
“Ketika harga naik, mereka terdorong keluar dari pasar,” kata Tim Benton, profesor di Universitas Leeds di Inggris sekaligus pakar ketahanan pangan.
“Kita sudah menghadapi cukup banyak masalah di dunia tanpa konflik ini memburuk dan memicu krisis kemanusiaan.”
(bbn)






























