Sebelumnya, Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk wilayah udara Iran, berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik nasional hingga 100% apabila berlangsung lebih dari dua pekan.
Ketua Umum ALI Mahendra Rianto menjelaskan, konflik tersebut membuat maskapai penerbangan enggan melintasi jalur udara di atas Iran dan sekitarnya, sehingga berdampak langsung pada pengiriman kargo udara dari Indonesia ke Timur Tengah dan Eropa.
"Kalau dia berkelanjutan lebih dari dua minggu, biaya logistik naik 50 sampai 100% dibandingkan [tarif di hari] normal,” ujar Mahendra saat dihubungi, Selasa (2/3/2026) lalu.
Mahendra mengatakan sebagian besar pengiriman logistik yang berasal dari dalam negeri selama ini mengandalkan hub di kawasan Timur Tengah seperti Dubai dan Qatar.
Namun, akibat situasi tersebut, seluruh rute yang melewati wilayah itu dihentikan sementara. Kondisi tersebut, kata dia, berdampak pada pelanggan ekspor, khususnya dari wilayah Bali yang mayoritas menggunakan jalur udara.
“Bali itu lebih udara, udara hold semua, yang ke arah Middle East hold. Bahkan yang ke Moskow ya lewat Bali, itu pun di-hold,” tutur dia.
Untuk menghindari wilayah Timur Tengah dan Iran, pelaku logistik kini mencari rute alternatif melalui Singapura dan Thailand sebagai hub. Namun, Mahendra mengakui biaya pengiriman otomatis akan menjadi lebih mahal. Apalagi, gangguan juga turut dirasakan oleh jalur laut akibat penutupan Selat Hormuz.
Hal ini, kata dia, akan turut berpotensi membuat tekanan tambahan dari sektor energi. Indonesia yang masih bergantung pada impor BBM dinilai berisiko menghadapi kenaikan biaya logistik apabila terjadi penyesuaian harga BBM bersubsidi.
"Yang kita khawatirkan nanti ini pemerintah akan menaikkan harga BBM untuk logistik yang bersubsidi,” kata dia. "Kita berharap pemerintah lebih bijak melihat itu."
(ain)





























