Logo Bloomberg Technoz

Perusahaan petrokimia PT Chandra Asri Pacific mengumumkan force majeure (kondisi kahar) awal pekan ini, dengan alasan gangguan pengiriman bahan baku akibat perang di Timur Tengah. Hal serupa bisa terjadi di bagian lain kawasan tersebut, terutama di Korea Selatan, produsen utama yang sangat bergantung pada nafta dari Teluk Persia.

Mangalore Refinery and Petrochemicals Ltd asal India memberi tahu pelanggannya pada Rabu bahwa mereka akan menangguhkan ekspor produk minyak, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut. Mereka tidak mengonfirmasi deklarasi resmi kondisi kahar, tetapi pemberitahuan tersebut merupakan tanda tekanan bagi negara yang merupakan sumber penting pasokan bahan bakar untuk Asia dan Eropa.

Gangguan Selat Hormuz yang Berkepanjangan Membatasi Ekspor. (Bloomberg)

Hampir tidak ada minyak atau bahan bakar yang dapat meninggalkan Teluk sejak perang meletus pada akhir pekan. Selain tanker minyak mentah, lebih dari 100 kapal yang penuh muatan produk minyak bersih—termasuk liquefied petroleum gas (LPG), bensin, nafta, solar, dan bahan bakar jet—terjebak di belakang Selat Hormuz, menurut data pelacakan kapal yang dikumpulkan Bloomberg.

Pembeli Asia mengambil sebagian besar ekspor tersebut, dan kekurangan mendadak ini berdampak dalam berbagai cara. India, yang memasok solar dan bensin ke Asia dan Eropa, mengatakan sedang memantau cermat situasi bahan bakar domestiknya, saat rumah tangga di negara Asia Selatan itu menghadapi prospek kekurangan gas yang akut dalam beberapa minggu mendatang karena perang menghentikan aliran LPG dari Teluk.

Jika tidak ada gencatan senjata mendadak di Timur Tengah, situasi di Asia tampaknya akan memburuk. Kapal tanker yang tersedia di Teluk Persia cepat habis, yang akan menghentikan produksi produsen yang tidak memiliki banyak kapasitas penyimpanan. Irak sudah memangkas produksi di ladang minyak terbesarnya, sementara situs penyimpanan utama di Arab Saudi cepat penuh, menurut perusahaan analitik geospasial Kayrros. 

Menghadapi prospek gangguan yang berkepanjangan, beberapa kilang minyak Asia mulai mempertimbangkan untuk memanfaatkan minyak mentah dari penyimpanan strategis dan komersial. Namun, kemungkinan besar negara-negara dengan cadangan tersebut—termasuk Jepang dan Korea Selatan—akan begitu khawatir atas keamanan pasokan mereka sendiri untuk menjual dalam jumlah banyak ke negara lain. Selain itu, hampir tidak ada cadangan bahan bakar di seluruh wilayah tersebut.

Hal ini menempatkan India, yang memiliki cadangan strategis minyak mentah yang kecil dibandingkan dengan permintaan dan cadangan bahan bakar yang sangat rendah, dalam situasi yang genting. Negara-negara lain yang sangat bergantung pada impor—seperti Indonesia, Australia, dan Myanmar—mungkin akan menghadapi kekurangan bahan bakar, atau terpaksa membayar tarif yang sangat tinggi untuk kargo, yang akan berkontribusi pada inflasi yang lebih cepat.

(bbn)

No more pages