Karena harga bensin juga naik, kenaikan biaya bahan bakar menjadi risiko bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu akhir tahun ini. Eropa, di mana solar juga digunakan dalam kendaraan penumpang, semakin bergantung pada bahan bakar dari Timur Tengah setelah mengurangi ketergantungannya pada solar Rusia sebagai respons atas perang di Ukraina.
Kontrak berjangka solar acuan di Eropa ditutup menjadi US$1.009 per ton pada Selasa, naik 34% dalam dua hari dan menjadi harga tertinggi sejak 2023.
Kontrak berjangka di Eropa lebih mahal US$40 per barel dibandingkan harga minyak mentah pada Selasa pagi, selisih harga tertinggi dalam lebih dari dua tahun, menurut data nilai wajar yang dikumpulkan Bloomberg. Premi bahan bakar terhadap minyak juga melonjak di AS dan Asia.
Harga solar secara langsung melonjak sebagai bagian dari reli pasar minyak secara luas. Namun, kenaikannya melampaui kenaikan minyak mentah Brent, yang mencerminkan pentingnya Timur Tengah sebagai eksportir dan pemasok besar bagi kilang-kilang besar lainnya.
Pengiriman solar ke Eropa dari kilang di Asia yang mengambil minyak mentah dari Teluk Persia "sekarang sangat berisiko," kata Janiv Shah, wakil presiden pasar komoditas di Rystad Energy. "Aliran volume minyak mentah dari Teluk Persia ke Eropa juga berisiko," imbuhnya.
Sebagai respons terhadap masalah pengiriman, beberapa kilang di Asia mempertimbangkan untuk mengurangi tingkat produksi, yang akan semakin membebani rantai pasokan.
Solar bukanlah satu-satunya produk minyak bumi yang mengalami lonjakan harga. Di Eropa Barat Laut, premi bahan bakar jet terhadap minyak mentah melonjak hingga lebih dari US$60 per barel, level tertinggi sejak tahun 2022, menurut data nilai wajar yang dikumpulkan Bloomberg.
Meski Uni Eropa menerima kargo baik solar maupun bahan bakar jet dari Teluk Persia, bahan bakar jet menyumbang proporsi lebih besar dari total kiriman, menurut data Vortexa yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Artinya, gangguan pada aliran ini merupakan ancaman yang lebih besar secara proporsional bagi impor keseluruhan blok tersebut.
Di sisi lain, selisih harga nafta—produk minyak bumi yang dapat digunakan sebagai bahan baku petrokimia atau dicampur untuk membuat bensin—di Asia Timur dibandingkan dengan Eropa Barat Laut mencapai rekor tertinggi baru dalam data yang mencakup periode sejak awal 2023.
Ekspor nafta melalui Selat Hormuz mencapai lebih dari satu juta barel per hari tahun lalu, sebagian besar mengalir ke Asia Timur. Oleh karena itu, gangguan pada pasokan tersebut akan mendukung harga di wilayah tersebut.
(bbn)





























