Bersamaan dengan itu, sejumlah saham mencatat pelemahan luar biasa dan menjadi top losers.
Di antaranya adalah saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang amblas 14,91%, saham PT Arthavest Tbk (ARTA) jatuh 14,81%, dan saham PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) ambruk 14,78%.
Tidak hanya IHSG, bursa saham Asia juga terbenam di zona merah. Index KOSPI (Korea Selatan) jadi yang paling parah dengan kejatuhan 11,23%.
Disusul oleh, SETI (Thailand), NIKKEI 225 (Tokyo), TOPIX (Jepang), Taiwan TAIEX, Hang Seng (Hong Kong), Straits Times (Singapura), PSEI (Filipina), SENSEX (India), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), Shenzhen Comp. (China), dan KLCI (Malaysia), yang terpangkas masing-masing 7,44%, 4,13%, 3,96%, 3,84%, 3,02%, 2,51%, 2,46%, 1,82%, 1,72%, 1,62%, 1,29%, 1,02%, dan 0,56%.
Bursa saham Benua Kuning bergerak senada dengan Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, Wall Street melemah di mana Nasdaq Composite turun 1,02%, S&P 500 terpotong 0,94%, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) minus 0,83%.
Respons BEI
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan pelemahan tajam IHSG terjadi seiring pergerakan bursa saham regional yang juga mengalami koreksi signifikan.
Menurut Irvan, tekanan di pasar saham domestik tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari sentimen risk-off global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAIEX, dan ASX,” ujar Irvan kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).
Irvan menambahkan, pasar saham Korea Selatan bahkan sempat mengalami trading halt setelah indeksnya turun lebih dari 8%, menandakan tingginya volatilitas di pasar keuangan Asia.
Tekanan pasar dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus memanas. Situasi semakin memicu kekhawatiran investor setelah Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Penutupan jalur tersebut memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang kemudian memperkuat sentimen negatif di pasar saham.
(naw)































