Nyaris keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham–saham barang baku dengan ambles mencapai 8,02%. Menyusul saham transportasi, dan saham konsumen non-primer yang masing-masing melemah 6,81%, dan 5,59%.
Bersamaan dengan itu, sejumlah saham mencatat pelemahan luar biasa dan menjadi top losers. Di antaranya adalah saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang amblas 14,91%, saham PT Arthavest Tbk (ARTA) jatuh 14,81%, dan saham PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) ambruk 14,78%.
Tidak hanya IHSG, bursa saham Asia juga terbenam di zona merah. Index KOSPI (Korea Selatan) jadi yang paling parah dengan kejatuhan 11,23%.
Disusul oleh, SETI (Thailand), NIKKEI 225 (Tokyo), TOPIX (Jepang), Taiwan TAIEX, Hang Seng (Hong Kong), Straits Times (Singapura), PSEI (Filipina), SENSEX (India), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), Shenzhen Comp. (China), dan KLCI (Malaysia), yang terpangkas masing-masing 7,44%, 4,13%, 3,96%, 3,84%, 3,02%, 2,51%, 2,46%, 1,82%, 1,72%, 1,62%, 1,29%, 1,02%, dan 0,56%.
Bursa saham Benua Kuning bergerak senada dengan Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, Wall Street melemah di mana Nasdaq Composite turun 1,02%, S&P 500 terpotong 0,94%, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) minus 0,83%.
Sentimen yang membuat pelaku pasar cemas adalah jalur pelayaran di Selat Hormuz yang ditutup oleh otoritas Iran. Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, gangguan pengiriman ini memicu kenaikan biaya bahan bakar.
Lonjakan harga diesel—yang vital bagi logistik, pembangkit listrik, dan pemanas—dicemaskan akan menambah biaya transportasi yang merupakan komponen utama inflasi. Harga bensin pun ikut melompat, memperparah risiko tersebut.
Perang di Timur Tengah terus bergema ke seluruh daerah. Terbaru, Israel kembali meluncurkan gelombang serangan baru ke Teheran.
Sebagai balasan, Republik Islam Iran menembakkan rudal ke arah Qatar, Bahrain, dan Oman. Doha melaporkan, target serangan tersebut tidak terbatas pada kepentingan militer saja. Akibatnya, Qatar dan Irak terpaksa menghentikan produksi di sejumlah situs energi utama mereka.
Konflik berkepanjangan yang mendorong harga minyak menuju US$90-100 per barel dalam periode lama akan menjadi hambatan ekonomi secara signifikan, kata Jennifer McKeown dari Capital Economics.
Di sisi belahan Bumi lain, harga gas alam di Eropa juga melambung ke level tertinggi dalam tiga tahun, yang diprediksi akan ikut menyeret naik harga di Asia karena kedua daerah tersebut bersaing memperebutkan kargo gas alam cair (LNG).
Konflik yang semakin memanas di Timur Tengah, akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran pada pekan lalu, telah mengguncang pasar energi dan mendorong kenaikan harga minyak mentah dan gas. Pengiriman melalui Selat Hormuz hampir terhenti total. Rentetan serangan juga memaksa kilang minyak terbesar Arab Saudi ditutup.
(fad/aji)



























