Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, pendapatan tol sebagai kontributor utama justru meningkat menjadi Rp18,15 triliun dari Rp17,22 triliun. Pendapatan usaha lainnya juga naik menjadi Rp1,65 triliun dari Rp1,51 triliun.

Namun, kenaikan pada recurring income tersebut belum mampu mengompensasi penurunan proyek konstruksi, yang secara akuntansi diimbangi langsung oleh beban konstruksi dalam pos beban pokok pendapatan.

Di sisi biaya, total beban pokok pendapatan tercatat Rp18,10 triliun, turun dari Rp20,44 triliun pada 2024, sejalan dengan menurunnya beban konstruksi menjadi Rp10,02 triliun dari Rp12,94 triliun.

Meski demikian, beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp2,48 triliun dari Rp2,33 triliun, menekan ruang ekspansi margin operasional

Laba usaha perseroan tercatat Rp9,65 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp9,51 triliun pada 2024. Perbaikan juga terlihat pada biaya keuangan yang turun menjadi Rp3,60 triliun dari Rp4,03 triliun.

Namun, dinamika pajak turut mempengaruhi laba bersih. Pada 2025, perseroan mencatat total beban pajak penghasilan sebesar Rp1,54 triliun, dibandingkan Rp157,65 miliar pada 2024. 

Dari sisi neraca, total aset JSMR meningkat menjadi Rp159,99 triliun dari Rp148,72 triliun pada 2024, terutama ditopang kenaikan hak pengusahaan jalan tol menjadi Rp140,97 triliun.

Total liabilitas juga naik menjadi Rp97,63 triliun dari Rp89,88 triliun pada tahun 2024, dengan rincian liabilitas jangka panjang sebesar Rp81,63 triliun dan liabilitas jangka pendek Rp15,99 triliun.

Dari sisi ekuitas, struktur permodalan JSMR masih menunjukkan penguatan. Total ekuitas perseroan per akhir 2025 tercatat Rp62,36 triliun, meningkat 6 % dibandingkan Rp58,83 triliun pada 2024. 

(fik/naw)

No more pages