Risiko yang lebih luas juga mengintai jika konflik berkepanjangan memicu gelombang baru gangguan rantai pasok global.
Semua itu, termasuk potensi harga politik yang harus dibayar Partai Republik pimpinan Trump pada November, sangat bergantung pada arah perang. Presiden yang sejak awal karier politiknya berjanji menghindari konflik berkepanjangan itu mengatakan pada Senin bahwa AS memperkirakan kampanye pengeboman akan berlangsung empat hingga lima minggu, namun siap memperpanjangnya menjadi “apa pun yang diperlukan.” Menteri Pertahanan Pete Hegseth menepis kemungkinan perang tersebut berubah menjadi konflik tanpa akhir seperti yang selama ini ditentang Trump. “Ini bukan Irak, ini tidak akan tanpa akhir,” katanya kepada wartawan.
Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani ekonomi dan kebijakan andalannya seperti tarif, berbalik tajam dari situasi pada 2024 ketika ia meraih kemenangan dengan memanfaatkan kemarahan publik terhadap inflasi.
Ancaman Hormuz
Harga bensin memiliki peran besar dalam membentuk persepsi warga Amerika terhadap kondisi ekonomi. Harga tersebut sangat dipengaruhi peristiwa di Timur Tengah karena sekitar seperlima minyak dan gas dunia yang diangkut lewat laut melewati Selat Hormuz, yang aksesnya dikendalikan Iran. Lalu lintas kapal tanker menurun tajam sejak konflik pecah pada Sabtu. Jika tidak segera pulih, harga minyak berpotensi menetap di atas US$100 per barel, menurut konsultan energi Wood Mackenzie.
Lonjakan ke level tersebut dapat mendorong harga bensin nasional menjadi sekitar US$4,50 per galon dari US$3 saat ini, menurut James Knightley, kepala ekonom internasional ING. Dampaknya bisa menambah 1,5 poin persentase pada inflasi utama, ditambah efek lanjutan pada tarif penerbangan dan biaya distribusi.
Dalam laporan Minggu, ekonom bank investasi Natixis memproyeksikan satu skenario di mana pertumbuhan AS melambat menjadi 0,5% hingga 1,5% tahun ini dengan inflasi meningkat, dan skenario lain di mana ekonomi menyusut setidaknya selama dua kuartal. Skenario terburuk didasarkan pada meluasnya perang yang mengganggu pelayaran global, menekan margin korporasi melalui “biaya yang lebih tinggi dan hambatan logistik.”
Meski demikian, AS kini tidak serentan dulu terhadap guncangan minyak karena lonjakan produksi domestik telah menjadikannya eksportir energi.
“Produksi minyak di AS saat ini sangat besar, sehingga perubahan harga minyak yang tidak dramatis cenderung berdampak relatif kecil terhadap ekonomi secara keseluruhan, meskipun jelas ada dampak distribusi,” kata David Seif, kepala ekonom pasar maju di Nomura.
Negara bagian penghasil minyak seperti Texas akan diuntungkan dari kenaikan harga. Selain itu, dengan harga gas alam Eropa melonjak pada awal Senin akibat ancaman terhadap pasokan Teluk, terdapat potensi keuntungan bagi eksportir AS.
“Status Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih bisa saja secara tak terduga menopang PDB,” tulis Joseph Brusuelas, kepala ekonom RSM, yang menilai respons awal pasar belum cukup besar untuk menimbulkan “risiko material terhadap prospek pertumbuhan atau inflasi AS.”
Risiko Stagflasi
Para analis kini mencoba memetakan kemungkinan jika konflik berlarut-larut atau meluas dan gangguan semakin parah — tidak hanya di sektor energi. Sebagian menilai tanda-tandanya sudah terlihat.
Mantan bos PIMCO Mohamed El-Erian menyoroti lonjakan premi asuransi, kapal kargo yang berbalik arah atau mengubah rute, serta gangguan penerbangan. Efek kumulatifnya adalah “potensi baru gelombang stagflasi yang melanda ekonomi global,” tulisnya pada Minggu.
Saluran lain yang dapat menekan pertumbuhan AS termasuk pelemahan pasar saham akibat perang — yang sebelumnya membantu mendorong belanja konsumen — serta potensi ketegangan baru dengan China, yang memiliki hubungan baik dengan Iran. Trump tengah berupaya meredakan perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia dan dijadwalkan mengunjungi Beijing akhir bulan ini.
Harga bensin yang lebih murah sempat menjadi kabar baik bagi konsumen AS yang terpukul gelombang kenaikan harga sejak pandemi — poin yang juga disoroti Trump dalam pidatonya di Kongres pekan lalu, ketika ia menyebut harga bensin di era pendahulunya sebagai “bencana.”
Menilai dampaknya terhadap kebijakan moneter lebih sulit. Di satu sisi, kenaikan harga energi bersifat inflasioner; di sisi lain, tekanan terhadap keuangan rumah tangga dapat memperlambat pertumbuhan.
“AS mungkin mandiri energi, tetapi kenaikan harga tetap menggerus konsumsi dan pendapatan yang beralih ke produsen energi kemungkinan tidak langsung dibelanjakan,” tulis Neil Dutta, kepala ekonom Renaissance Macro Research, dalam sebuah catatan.
Bahkan sebelum konflik Timur Tengah pecah, data harga terbaru sudah cukup menimbulkan kekhawatiran bagi The Fed. Risalah rapat kebijakan bank sentral pada 27–28 Januari menunjukkan sejumlah pejabat mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
“Untuk terjadi perubahan kebijakan The Fed, kita perlu melihat perang Iran berdampak signifikan dan berkelanjutan terhadap harga minyak, serta ekspektasi inflasi AS menjadi tidak terkendali,” tulis ekonom Bloomberg, Anna Wong dan Tom Orlik, dalam catatan pada Minggu. “Keduanya mungkin terjadi. Namun tidak ada yang pasti.”
(bbn)





























