Menurut dia, konflik yang terjadi di Timur Tengah berpotensi menimbulkan ketegangan perdagangan global hingga menekan kinerja ekspor nasional, melalui pelemahan permintaan eksternal dan peningkatan biaya logistik.
"Risiko gangguan terhadap rantai pasok global, terutama pasokan energi dan minyak bumi, serta peningkatan volatilitas pasar keuangan global menjadi perhatian utama," ujar Febrio.
Menurut dia, pemerintah juga memantau dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional. Kendati demikian, dia meyakini bahwa fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut.
"APBN akan terus dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3% PDB,” ujar Febrio.
(lav)






























