Logo Bloomberg Technoz

“Saat ini lebih banyak pertanyaan daripada jawaban,” ujar Chris Larkin dari E*Trade (Morgan Stanley). “Stabilisasi sektor energi bisa memberikan efek positif, namun kekhawatiran akan gangguan jangka panjang bisa berdampak sebaliknya.”

Dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang G-10, membuat yen Jepang diperdagangkan di kisaran 157 per dolar. Di Australia, Gubernur Bank Sentral (RBA) Michele Bullock menyatakan pihaknya "sangat waspada" terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap ekspektasi inflasi dan siap mengambil tindakan kebijakan jika diperlukan.

Di tengah gempuran AS-Israel ke Iran, Donald Trump menyerukan agar pemimpin Iran menyerah. Namun, kepala keamanan Republik Islam Iran dengan tegas menolak opsi negosiasi. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menepis kekhawatiran akan terjadinya "perang tanpa akhir."

Dari sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri China Wang Yi meminta Iran memperhatikan "kekhawatiran yang masuk akal" dari negara-negara tetangganya, setelah aksi balasan Teheran turut menyasar beberapa negara Teluk lainnya.

Meski situasi memanas, beberapa analis melihat pasar masih cukup tangguh. Antonio Di Giacomo dari XS.com menilai konflik ini sebagai risiko geopolitik yang relevan, namun secara finansial masih terkendali untuk jangka pendek.

Ahli strategi Morgan Stanley yang dipimpin Mike Wilson berpendapat bahwa konflik ini kecil kemungkinannya untuk merusak tren bullish saham AS, kecuali jika terjadi lonjakan harga minyak yang tajam dan berkelanjutan.

“Pada akhirnya, aksi militer di Iran seharusnya menghapus ketidakpastian besar di dunia. Pasar saham diperkirakan akan mengalami reli setelah kepemimpinan baru yang pro-Barat muncul di Iran dan ekspor minyak mentah kembali berlanjut,” ungkap strategi veteran Louis Navellier.

Di pasar kripto, Bitcoin sempat menyentuh level US$70.000 pada Senin setelah sebelumnya anjlok ke kisaran US$63.000 pada akhir pekan. Namun, perak gagal mengikuti jejak emas dan justru merosot lebih dari 4%.

(bbn)

No more pages