Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, dia menyematkan level support IHSG berada di kisaran 7.950 sampai dengan 8.000.

Setali tiga uang, Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas Reyhan Pratama berpendapat IHSG bakal kembali melanjutkan koreksi seiring dengan risiko geopolitik di Timur Tengah.

“Untuk saat ini indeks masih akan volatil dengan potensi koreksi berlanjut,” kata Reyhan saat dihubungi.

Menurut Reyhan, level support IHSG berada di kisaran 7.861, 7.712 hingga 7.500.

IHSG tercatat melorot 2,65% ke level 8.016 pada perdagangan Senin (2/3/2026). Selain sentimen geopolitik Timur Tengah, data domestik iihwal inflasi ikut memengaruhi pelemahan indeks komposit.

Sepanjang perdagangan IHSG terpeleset lebih dalam di zona merah, dengan manuver jual yang amat deras, rentang perdagangan terjadi pada area level 8.133 sampai dengan terlemahnya 8.016.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai perdagangan menyentuh Rp29,83 triliun, yang didominasi penjualan dari sejumlah 56,6 miliar saham yang ditransaksikan usai frekuensi terjadi 3,65 juta kali diperjualbelikan.

Tercatat hanya ada penguatan 108 saham, dan sebanyak 671 saham terjadi pelemahan. Sedang 41 saham stagnan. Sementara Kurs Rupiah ditutup melemah 0,54% di posisi Rp16.861/US$ pada tutup perdagangan.

Selat Hormuz

Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari tidak hanya memicu ketegangan politik. Kondisi ini juga mengguncang salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz.

Blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan AS-Israel langsung membuat pelaku pasar siaga. Bukan hanya pasar minyak, tetapi juga industri pelayaran global. Tarif sewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (very large crude carrier/VLCC) pun melonjak tajam. 

Ilustrasi jalur selat Hormuz. (Bloomberg)

Melansir Bloomberg Intelligence, sepanjang tahun ini saja, tarif spot VLCC sudah naik 767% dari level terendahnya pada 6 Januari lalu, dan pada 27 Februari tercatat sekitar US$225.637 per hari, jauh di atas rata-rata titik impas industri yang hanya US$25.000–US$35.000 per hari. 

Jika ketegangan berlanjut atau terjadi gangguan nyata pada pelayaran, tarif itu berpotensi mendekati rekor 2019 yaitu sebesar US$317.334 per hari. 

Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Sekitar 26% perdagangan minyak mentah dunia dan 20% gas alam cair (LNG) global melintasi jalur sempit ini setiap hari.

Secara nilai, arus minyak yang melewatinya mencapai sekitar US$600 miliar per tahun. Artinya, apa pun yang terjadi di sana hampir pasti terasa hingga ke harga BBM, inflasi, dan biaya logistik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Secara geografis, Selat Hormuz memang tampak cukup lebar, sekitar 34 kilometer di pintu masuk Teluk Persia. Namun jalur pelayaran efektifnya ternyata jauh lebih sempit, hanya sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah.

Jalur ini menjadi satu-satunya pintu keluar ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Jika terjadi gangguan, opsi alternatifnya juga sangat terbatas.

Bagi operator kapal tanker, ini berarti lonjakan laba jangka pendek. Namun bagi konsumen energi global, kenaikan harga ini jadi alarm lonjakan biaya operasional yang dapat menekan margin. 

(naw)

No more pages