Logo Bloomberg Technoz

Perang terbuka di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama setelah harga minyak sempat melonjak tajam. Kenaikan harga minyak tidak hanya memicu risiko inflasi global, tetapi juga mempersempit ruang kebijakan moneter di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam konteks ini, tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Pelemahan mayoritas mata uang Asia menunjukkan bahwa arus modal cenderung keluar dari emerging markets dan kembali ke dolar AS.

Jika sentimen ini berlanjut dan indeks dolar bertahan di atas 98, bukan tidak mungkin rupiah kembali menguji area Rp16.850 hingga Rp16.900/US$ dalam jangka pendek. Level psikologis Rp17.000/US$ pun menjadi batas berikutnya yang agaknya akan mulai diperhitungkan oleh para pelaku pasar lagi. 

Di tengah tekanan eksternal tersebut, pasar kini menggantungkan harapan pada rangkaian data ekonomi yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Dari China, pengumuman Rencana Lima Tahun 2026–2030 dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) akan menjadi sorotan utama.

Investor akan mencermati arah stimulus dan kebijakan pertumbuhan, mengingat China merupakan mitra dagang utama kawasan. Jika sinyal kebijakan pro-pertumbuhan muncul, hal itu berpotensi menopang sentimen di Asia dan membantu menahan tekanan mata uang regional, termasuk rupiah.

Di dalam negeri, proyeksi lonjakan inflasi Indonesia menurut konsensus Bloomberg  sebesar 4,3% yoy, membayangi laju penguatan rupiah dan diperkirakan akan terdepresiasi hingga Rp16,800-17,000/US$. 

Meski begitu, data ekspor impor RI juga diprediksi menguat pada bulan Januari. Konsensus Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia Januari mencapai 11,9% secara tahunan. Proyeksi angka ini jauh lebih kuat dari realisasi bulan sebelumnya yang hanya 0,36%. Sementara impor Januari diproyeksikan akan melonjak 20% (yoy), hampir dua kali lipat laju ekspor, setelah Desember lalu terkontraksi 2,7%. 

Terlebih, dengan adanya perang terbuka yang membuat lonjakan harga komoditas diharapkan dapat memberikan sedikit momentum menguntungkan dari sisi neraca dagang hingga dapat mengerek pertumbuhan ekspor yang pada akhirnya menyumpang kenaikan cadangan devisa pada bulan selanjutnya. 

(dsp)

No more pages