Sepanjang 2025, tercatat 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 89 kabupaten/kota di 16 provinsi. Jumlah kasus campak hingga minggu ke-53 tahun 2025 mencapai 63.760 kasus, dengan 11.094 di antaranya telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Dari total kasus tersebut, tercatat 69 kematian dengan angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,1%. Menurut Andi, angka tersebut setara dengan negara-negara maju di Eropa dan kawasan lainnya. “CFR 0,1% itu sama dengan negara-negara maju seperti Eropa dan lainnya,” ujarnya.
Lima provinsi dengan jumlah KLB terbanyak pada 2025 adalah Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Pemerintah menyebut penguatan surveilans dan imunisasi menjadi langkah utama untuk menekan penyebaran kasus di wilayah-wilayah tersebut.
Memasuki 2026, tren campak masih terus dilaporkan hingga minggu ke-7. Tercatat 8.224 kasus suspek, dengan 572 kasus telah dikonfirmasi melalui laboratorium dan empat kasus meninggal dunia. CFR pada 2026 tercatat sebesar 0,05%, lebih rendah dibandingkan 2025 yang sebesar 0,1%.
Untuk 2026, lima provinsi dengan KLB terbanyak adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Pemerintah menegaskan akan terus memperkuat upaya pencegahan, terutama melalui peningkatan cakupan imunisasi dan respons cepat terhadap potensi KLB di daerah.
(dec)





























