Logo Bloomberg Technoz

Amblesnya saham–saham berbobot besar jadi sebab, terutama saham BUVA dan VKTR, hingga diperberat lagi oleh saham BUMI.

Data Bursa Efek Indonesia memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp28,14 triliun dari sejumlah 56,52 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi menyentuh 3,14 juta kali diperjualbelikan.

Tren arus keluar dana asing di IHSG. (Bloomberg)

Mengutip Panin Sekuritas, dengan posisi stochastic masih mengarah ke bawah, IHSG masih ada kemungkinan melanjutkan tren pelemahan.

Critical level berada pada Neckline Double Bottom 8.214 sampai dengan titik Low hari ini di 8.140,” sebut Panin Sekuritas, Kamis (26/2/2026).

Jika IHSG ditutup di bawah area ini maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support psikologis 8.000. Di sisi lain, resistance terdekat berada pada MA–50 di 8.441.

Sementara itu, tim riset MNC Sekuritas membeberkan muncul tekanan jual yang relatif besar saat IHSG merosot 1,04% pada penutupan perdagangan kemarin.

Kendati demikian, MNC Sekuritas berkeyakinan indeks komposit masih berpeluang menguat ke level 8.440-8.650.

“Waspadai akan adanya koreksi lanjutan ke rentang 8.081-8.149,” dikutip dari tim riset MNC Sekuritas.

Defisit Fiskal 

S&P menyoroti rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan sebagai metrik utama, dengan Indonesia selama ini secara konsisten berada di bawah 15% dalam waktu yang lama.

Namun, rasio tersebut meningkat signifikan sejak pandemi dan belum menunjukkan penurunan yang cepat.

Posisi defisit fiskal Indonesia. (Bloomberg)

Indonesia, yang memiliki aturan yang ditetapkan sendiri untuk membatasi defisit fiskal maksimal 3% dari produk domestik bruto (PDB), mencatat defisit 2,9% tahun lalu—lebih tinggi dari perkiraan—akibat lemahnya penerimaan negara.

Perkembangan ini dinilai S&P sebagai sesuatu yang “bergerak naik sedikit lebih cepat” dalam hal risiko penurunan terhadap trajektori fiskal negara.

Kelemahan penerimaan yang berkelanjutan dapat membuat beban bunga tetap tinggi dan mengikis bantalan fiskal yang menopang peringkat kredit Indonesia, kata S&P.

“Dua perkembangan yang kami awasi dengan sangat cermat adalah kerangka fiskal jangka menengah—apakah tetap berlandaskan pada kebijakan aturan fiskal yang sudah mapan—dan kedua, perkembangan penerimaan,” kata Yin.

(naw)

No more pages