Sementara won Korea Selatan cenderung bergerak fluktuatif setelah Bank of Korea mempertahankan suku bunga acuan sesuai ekspektasi pasar dan memberi sinyal tidak ada perubahan kebijakan dalam enam bulan ke depan. Tadi pagi, won Korea Selatan juga bergerak di zona hijau bersama mata uang Asia lainnya.
Sore ini, selain won, peso Filipuna dan dolar Hong Kong ikut menyusut.
Secara keseluruhan, indeks dolar Bloomberg melemah tipis, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10Y turun ke 4,17%, dan mendukung penguatan nilai aset berisiko di emerging market.
Di pasar obligasi domestik aksi beli masih terjadi hari ini, yield Indonesia tenor 10Y tercatat turun ke 6,18%, mencerminkan minat beli yang tetap terjaga. Agaknya pasar juga merespons pasar obligasi domestik setelah penawaran global bonds Indonesia yang berdenominasi euro dan yuan laku diserap investor.
Dalam konteks penyerapan obligasi, rupiah juga mendapat bantalan dari faktor domestik. Penurunan yield SUN tenor 10Y ke level 6,18% menunjukkan arus masuk dana masih relatif terjaga.
Keberhasilan pemerintah menyerap minat investor pada penerbitan global bond berdenominasi euro dan yuan turut memperkuat sentimen, karena menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap aset Indonesia tetap solid meski dinamika global belum sepenuhnya reda. Bagi pelaku pasar, kombinasi stabilitas nilai tukar dan turunnya imbal hasil menjadi indikasi bahwa tekanan eksternal saat ini relatif terkendali.
Agaknya sore ini, pasar mata uang tampaknya dapat bertahan di zona optimistis, sementara memanfaatkan momentum pelemahan dolar sambil tetap mencermati risiko yang sewaktu-waktu bisa muncul kembali dan membebani pergerakan mata uang.
(dsp/aji)





























