Efek Perang Iran, Singapura Perketat Kebijakan Moneter
News
14 April 2026 15:00

Swati Pandey dan Claire Jiao - Bloomberg News
Bloomberg, Singapura resmi memperketat kebijakan moneternya pada Selasa (14/4). Langkah yang sudah diprediksi pasar ini menjadikan Singapura sebagai negara pertama di Asia yang bereaksi terhadap meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Otoritas Moneter Singapura (MAS), yang menggunakan nilai tukar sebagai alat kebijakan utama alih-alih suku bunga, mengumumkan akan meningkatkan kemiringan (slope) pada pita kebijakan nilai tukarnya. Langkah ini sesuai dengan prediksi 15 dari 18 ekonom dalam survei Bloomberg, sementara lebar dan titik tengah pita kebijakan tetap tidak berubah.
"Biaya energi impor Singapura telah meningkat," tulis MAS dalam pernyataan resminya. Bank sentral tersebut mencatat bahwa harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi untuk waktu yang lama, bahkan jika pasokan dari Timur Tengah kembali pulih. "Seiring merambatnya biaya energi yang lebih tinggi melalui rantai pasokan global, berbagai biaya impor Singapura akan turut meningkat."
Dolar Singapura terpantau stabil di level 1,2734 per dolar AS setelah sempat menguat tipis usai pengumuman tersebut. Mata uang ini menjadi yang berperforma terbaik di Asia Tenggara terhadap dolar AS sejak pecahnya perang Iran.






























