Premi Risiko Tinggi
Meski aksi beli masih terjadi, namun premi risiko cukup diganjar mahal oleh investor global. Di tengah risiko kondisi domestik saat ini, dengan defisit fiskal dan ketergantungan arus modal asing, investor di pasar surat utang agaknya tetap berhati-hati terhadap aset berdenominasi rupiah.
Salah satu ukuran risiko sebuah negara dalam investasi surat utang adalah Credit Default Swap (CDS) yang berfungsi sebagai 'asuransi' jika negara gagal bayar utang. Semakin tinggi angkanya, semakin mahal biaya asuransinya, artinya risiko dipandang lebih tinggi.
CDS Indonesia berada di level 80,49 bps, tertinggi di antara negara yang dibandingkan. Sebagai pembanding, CDS Korea Selatan hanya 23,14 bps, Jepang 24,76 bps, Malaysia 38,20 bps, Thailand 38,85 bps, India 42,11 bps, China 42,79 bps, dan Filipina 59,25 bps.
Artinya, secara persepsi risiko kredit, Indonesia masih dipandang lebih berisiko dibanding peer regional. Namun dalam fase pelemahan dolar AS seperti saat ini, agaknya investor global cenderung berburu yield.
Dengan yield SUN 10Y di kisaran 6,4%, Indonesia menawarkan imbal hasil yang jauh lebih menarik dibanding negara maju seperti Jepang atau Korea Selatan. Ketika dolar AS melemah, investor global cenderung mencari negara yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, asalkan risikonya masih dianggap terkendali.
Namun, CDS Indonesia yang masih paling tinggi di kawasan juga menjadi pengingat, bahwa pasar tetap melihat Indonesia sebagai aset dengan risiko lebih besar dibanding negara tetangga.
Selama sentimen global tetap positif dan dolar tidak kembali menguat tajam, kondisi ini bisa bertahan. Tetapi jika arah angin global berubah, Indonesia biasanya akan merasakan dampaknya lebih cepat.
(dsp/aji)



























