"Masa depan hubungan Korea Utara-AS sepenuhnya bergantung pada sikap AS," lanjut Kim.
Dalam pidato yang sama, Kim melontarkan kritik pedas terhadap upaya diplomasi dari pemerintahan baru Korea Selatan (Korse) yang berhaluan kiri di bawah Presiden Lee Jae Myung. Ia menyebut sikap damai Seoul sebagai "penipuan yang canggung dan tidak meyakinkan."
Kim menegaskan bahwa Korut "tidak memiliki masalah untuk didiskusikan" dengan Selatan. Bahkan, ia menyatakan akan "mengecualikan Korea Selatan secara permanen dari kategori rekan senegara."
Kongres yang dihadiri oleh 5.000 delegasi dan pejabat partai ini dipantau ketat secara global untuk melihat prioritas pembangunan Kim dalam lima tahun ke depan. Meski Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk kembali duduk di meja perundingan, Pyongyang tetap pada pendiriannya: Washington harus membatalkan tuntutan denuklirisasi sebagai syarat sebelum dialog dimulai.
Kondisi Kim saat ini jauh berbeda dibanding lima tahun lalu. Ia kini muncul sebagai sekutu utama Presiden Rusia Vladimir Putin dengan mendukung perang di Ukraina. Pada September lalu, Kim tampak berdiri sejajar dengan Putin dan Presiden China Xi Jinping dalam parade militer di Beijing. Langkah ini dinilai berhasil mengubah citranya dari pemimpin negara yang terkucil menjadi pemain global.
Sementara itu, pemerintahan Trump baru saja merilis Strategi Pertahanan Nasional bulan lalu yang mendesak Korsel untuk mengambil peran utama dalam menangkal ancaman Korut. Hal ini memberi sinyal adanya pengurangan dukungan militer Amerika di kawasan tersebut.
(bbn)































