Beban defisit fiskal yang masih menggelayuti membuat premi risiko aset berdenominasi rupiah diganjar tinggi. Selain itu, Fitch bahkan mencatat dalam rilis penyematan peringkat global bond, bahwa Indonesia berada di persentil ke-44 dalam indikator tata kelola Bank Dunia, kategori menengah.
Transisi politik relatif damai dan institusi cukup mapan, adanya tingkat partisipasi politik yang moderat serta adanya supremasi hukum yang telah mapan, cukup menopang peringkat. Akan tetapi persoalan korupsi dan kualitas regulasi masih menjadi catatan Fitch. Dalam hal ini, Indonesia perlu melakukan perbaikan signifikan dari indikator struktural, seperti standar tata kelola sehingga mendekati negara kategori 'BBB', sebut Fitch.
Selain kondisi tata kelola pemerintahan, Fitch juga memberi catatan soal kondisi fiskal. Fitch menyebut, dengan kondisi defisit yang ada saat ini, Indonesia perlu melakukan perbaikan kepatuhan pajak serta perluasan basis pajak, yang dapat memperkuat fleksibilitas fiskal.
Ketika basis pajak belum cukup dalam dan kepatuhan masih menjadi pekerjaan rumah, fleksibilitas fiskal menjadi terbatas untuk merespons gejolak eksternal secara agresif.
Di pasar spot kemarin, rupiah memang sempat menguat 0,23% ke posisi Rp16.785/US$ sejak sesi siang, setelah melemah dalam sesi pembukaan perdagangan hingga pukul 10:30 WIB. Penguatan ini efek dari lesunya dolar AS dan membawa mata uang di pasar emerging markets ikut terangkat.
Akan tetapi penguatan rupiah yang terjadi bersama mata uang Asia lainnya kemarin agaknya hanya bersifat temporer, ketimbang tren apresiasi jangka panjang.
Jika sentimen domestik kembali membebani aliran modal masuk akibat otot dolar AS yang kembali menguat dengan adanya alarm risk-off, rupiah agaknya akan kembali bergerak di rentang Rp16.850-Rp16.900/US$.
(dsp/aji)



























