Menebak Nasib Rupiah Hari Ini, Bisakah Perkasa Lagi?
Tim Riset Bloomberg Technoz
26 February 2026 07:21

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) kembali melemah, meski dolar AS masih mengalami koreksi setelah pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump, kemarin.
Rupiah offshore malah turun 0,11% ke Rp16.801/US$, di tengah penyusutan dolar AS akibat ketidakpastian geopolitik setelah Trump menyatakan tak memberi sinyal mundur dari strategi tarifnya dalam pidato kemarin.
“Perang tarif tidak berdampak baik bagi dolar AS pada 2025, dan kami tidak melihat hal itu akan menguntungkan dolar AS pada 2026, karena kebijakan tersebut terus membuat AS terlihat sebagai agen deglobalisasi, dan dengan demikian berpotensi menyebabkan dolar AS kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan,” kata analis seperti dikutip Bloomberg News.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya susut 0,15% ke 97,7 dan membawa penguatan terhadap beberapa mata uang Asia. Di pasar yang sudah buka, yen Jepang memimpin penguatan di pasar mata uang Asia sebesar 0,10%, disusul dolar Singapura 0,04%, dan dolar Hong Kong 0,01%. Sementara yuan offshore China menyusut 0,01%.
Meski konflik dagang itu sempat berkontribusi terhadap menurunnya daya tarik dolar AS dan kemungkinan akan berlanjut memberikan dampak serupa di tahun ini, agaknya rupiah masih tetap dibayangi sentimen domestik yang membuatnya cukup berat untuk mendorong laju penguatan.



























